like the flowing river
silent in the night.
be not afraid of the dark.
if there are stars in the sky,
reflect them back.
if there are clouds in the sky,
remember, clouds, like the river, are water.
so, gladly reflect them too,
in your own tranquil depths.
~manuel bandeira
Tuesday, July 21, 2015
lorong waktu
Monday, July 20, 2015
pariwisata dan model
Saturday, July 18, 2015
Ia tua dilihat
Ia belia memesona
Surga memberikannya api
Surga memberikannya air
Pak Tua menjadikannya permata
Parahyang menetap
Sahaya mati menetap
Tunas-tunas merekah
Kayu putih menjulang mengelupas
Kekayu merengkel melapuk
Dedaun hitam mengabu
Bernafas telur tujuh tahun usianya
Surgalah Pak Tua menjadikan
Mana langit mana bumi?
Dua dunia menyatu meniga
Saturday, May 23, 2015
burung-burung manyar
Awalnya saya benar-benar tidak mengerti buku apa ini. Saya hanya tertarik dari nama pengarangnya saja. Baca keterangan di belakangnya pun tidak bisa menjelaskan tentang apa buku ini. Tapi, yah, yakin saja dengan kualitas penulisnya, Romo Mangun. Tapi sebentar saya baca, hanyutlah saya ke dalam alur pemikiran si tokoh utama, Setadewa. Bahasanya begitu sederhana, lugas,polos, jujur, tetapi menusuk. Layaknya alam pikir orang-orang biasa. Benar-benar tidak seperti sangkaan saya bahwa buku ini bakal sangat formal dan berat karena diciptakan Romo Mangun yang sangat intelektual.
Awalnya juga saya bingung, kenapa sih judulnya Burung-burung Manyar. Kenapa burung? Seperti apa pula burung manyar itu? Sepanjang membaca buku saya mencoba-coba menghubungkan alur cerita dengan judul buku. Tetapi tetap saja tidak mengerti.
Rupanya Romo Mangun ingin menjelaskan karakter dan jalan hidup sang tokoh utama Setadewa yang bernama kecil Teto ini. Teto adalah seorang Sinyo ningrat, ber-ibu Indo ningrat dan ayah Jawa ningrat yang menjabat Letnan di Tentara Kerajaan Belanda di Hindia, jabatan yang tinggi untuk ditempati oleh seorang berwarna. Tetapi begitu-begitu orangtuanya tidak suka dengan kehidupan dan watak para ningrat Jawa sehingga tidak hidup di lingkungan keraton. Ayahnya ceplas ceplos tetapi sangat jujur. Karakter ini menurun ke Teto yang adalah salah seorang anak kolong di Magelang, kotanya.
Kesamaan karakter juga ditemui pada karakter Atik kecil, Raden Ajeng Larasati. Ya, dari namanya dia juga anak seorang ningrat. Ibunya anak angkat keraton namun sangat rendah hati. Ayahnya pegawai kehutanan di Bogor. Tidak suka dengan lingkungan keraton, Atik hidup jauh situ. Ayahnya malah menjejalinya dengan buku sehingga Atik sangat suka alam, burung, membaca, sangat berwawasan dan kritis, karakter yang sangat sulit ditemui pada perempuan ningrat Jawa.
Atik dan Teto sempat bertemu dan bermain. Hanya saja tidak terlalu dekat. Atik tidak suka dengan Teto yang tidak punya aturan, nakal, dan pernah membuat kesepakatan permainan yang tidak adil. Atik pernah menampar Teto karena main cium Atik. Tetapi, Atik mengagumi Teto yang berani terjun ke sungai ketika topi ibunya jatuh terbawa angin saat sedang plesir di pinggir sungai.
Cerita berlanjut saat dunia mereka yang mapan berubah ketika Jepang datang menyerang Hindia. Ayahnya yang seorang letnan harus berpindah-pindah tempat untuk sembunyi karena mengatur gerakan bawah tanah melawan Jepang. Sementara Teto dengan Ibunya harus hidup dengan pas-pasan menumpang di rumah-rumah keluarganya. Sampai suatu hari, ketika ia sedang menempung pendidikan di Semarang, ia dikirimi surat oleh seorang perempuan supaya ia datang ke Jakarta beserta dengan uangnya. Seminggu baru ia memenuhi undangan surat tersebut. Ternyata itu adalah Atik, dan katanya maminya ada di sana juga. Berlinang air mata mereka bertemu karena papinya ternyata tertangkap oleh Jepang. Praktis kehidupan Teto dan maminya bergantung kepada keluarga Atik. Tapi dari situlah Teto menjadi dekat dengan Atik layaknya abang dan adik. Sayang, keadaan diperparah beberapa waktu kemudian ketika ia dipanggil oleh maminya Atik, Ibu Antana, dengan suasana suram. Maminya menerima surat ultimatum dari pemimpin Jepang yang menangkap ayahnya, menjadi gundiknya atau suaminya dibunuh. Cintanya yang begitu besar kepada suaminya tentu saja membawanya mengorbankan diri. Marah, dendam, benci, sedih, depresi meliputi Teto kepada Jepang membulatkan niatnya untuk bergabung ke dalam KNIL melawan Jepang dan melawan gerakan Soekarno.
Pilihan hidupnya membawanya menjauh sejauh-jauhnya dari Atik dan keluarga Antana. Atik memilih jalan hidup lain. Kepintaran dan nasionalismenya membawanya menjadi sekretaris Syahrir karena ayahnya pun juga ikut berjuang di pihak Soekarno. Atik memperjuangkan kemerdekaan, Teto melawan kemerdekaan. Akhirnya pun sudah kita ketahui, Republik akhirnya terbentuk dan Teto sebaga pihak yang kalah terpaksa tidak jelas menjadi warga negara mana karena akhirnya KNIL dibubarkan dan ia dicap sebagai pengkhianat bangsa.
Hidup berlanjut. Teto akhirnya menjadi manajer produksi perusahan minyak multinasional sebagai seorang ahli computer yang berharga 10 kali seorang menteri. Perusahaannya saat itu akan berinvestasi di Indonesia dengan model komputer atau hitungan minyak yang dibuat meleset sehingga merugikan Indonesia sebanyak jutaan dollar per tahun. Hati nurani dan prinsipnya menggerakkannya untuk memberitahukan model ini kepada pemerintah Indonesia. Temannya saat itu menganjurkannya kepada Janakatamsi, suami dari Ibu Larasati Janakatamsi. Kebetulan temannya diundang untuk hadir ke sidang doktoral Atik tetapi tidak bisa hadir sehingga diberikan ke Teto. Bertekad untuk akhirnya bertemu dengan Atik setelah puluhan tahun menghilang, Teto hadir di sidang tesis Atik hari itu yang berjudul Jati diri dan Bahasa Citra dalam Struktur Komunikasi Varietas Burung Ploceus Manyar.
Di sinilah ‘kesimpulan’ dari buku ini. Dalam presentasinya Atik menjelaskan bahwa burung-burung manyar jantan ketika musim kawin membangun sarang-sarangnya terlebih dahulu untuk memikat para betina, baru kemudian manyar betina akan memilih yang terbaik. Jantan yang tidak terpilih sarangnya lalu menghancurkan dan membangun ulang sarang yang telah dibuatnya untuk mengundang betina yang lain. “Dari mana datang perilaku yang mengaburkan pembatasan tajam antara yang disebut naluri yang dipastikan dan sikap sadar yang disanggup untuk memilih? Sanggup memilih mengandalkan suatu kemampuan untuk menimbang, untuk memegang kendali nasib, untuk berkreasi? ... Dari pihak lain, dari mana perasaan sedih dan kecewa dan kejengkelan yang lalu melolosi dan merombak sesuatu yang dinilainya gagal? Dari mana lalu datang tekad baru yang kreatif kembali, yang mengandalkan jiwa yang punya harapan, yang tidak menyerah hanyut namun aktif menimbulkan fajar yang baru?” Begitu pertanyaan yang dilontarkan oleh Atik dalam sidangnya. Pengetahuan mengenai pengambilan keputusan dan naluri nasib yang tunduk pada kepastian buta yang menolong kita memahami hal-hal yang kolektif, yang merupakan insting keharusan adat dan kebiasaan nasional, berpadu dengan segala yang kreatif, yang khas dan pribadi. Kita boleh memilih keputusan apapun yang akan berpengaruh terhadap jalan hidup kita, tetapi kita terikat dengan jutaan benang tak terlihat dengan alam raya.
Atik menjelaskan pula bahwa hidup ini tidak hanya mengenai kesimpulan perhitungan buta oleh komputer-komputer dingin. Hidup ini mendambakan innerlichkeit atau jati diri, suatu sumber kesadaran diri dalam lubuk kedalaman hakikat manusia yang senantiasa menjadi misteri. Jati diri inilah yang akan terbawa dalam kesadaran diri dan hasrat mencurahkan diri kepada makhluk lain. Dari sini timbul bahasa yang memancar ke luar, yaitu bahasa citra; citra-diri, ada-diri.
Atik kemudian bertemu dengan Teto dan keluarganya menganggap Teto sebagai abang. Cinta Teto kepada Atik terpaksa dipendam karena status pernikahan Atik dengan Jana yang sudah membuahkan 3 orang anak. Namun, Teto ingin membahagiakan mereka dengan menghadiahi mereka tiket haji. Namun, naas, kisah Setadewa dan Larasati berakhir dengan jatuhnya pesawat yang menerbangkan mereka ke Mekkah. Ia pun mengangkat ketiga anak mereka menjadi anaknya.
Di akhir cerita, Teto yang hatinya sudah dingin ketika menerima berita tersebut mempertanyakan mengapa hidupnya selalu dipenuhi dengan ketidaktercapaian. Namun, itulah ‘perhitungan’ yang telah terjadi. Melihat ketiga anak Atik dan Jana yang akan ia besarkan dan mekar mengingatkannya kepada burung manyar, yang mendedikasikan diri mereka untuk anak-anaknya bahkan sebelum mereka kawi
n, sebagai bahasa citra mereka. Untuk itulah perhitungan segala takdir hidupnya terjadi.
Buku ini benar-benar menghanyutkan saya. Jalan ceritanya begitu nyata. Emosi di dalamnya berluap. Alur terjadi seperti kenyataan yang menusuk dan kejam. Tapi kenyataan itu kenyataan seperti guru yang yang bijak mengajarkan hidup, walaupun tanpa ampun. Jati diri pula yang ternyata menjadi inti dari cerita ini. Jati diri dan bahasa citra. Jati diri bangsa Indonesia yang baru terbentuk sebagai bangsa yang telah lama terjajah. Bangsa yang bermental kuli, termangut-mangut di bawah orang asing dan ningrat dan telah kehilangan jati dirinya. Tidak lagi mempunyai harga diri.
Menarik pula melihat banyak bagian-bagian buku ini yang menyinggung estetika, mengingat latar belakang si penulis yang juga seorang arsitek. Romo Mangun juga mengkritisi bagaimana hilangnya identitas dan jati diri bangsa Indonesia tercermin dari arsitekturnya yang tidak lagi indah di tengah alam Indonesia yang begitu indah.
Menutup resensi buku ini, saya ingin mengutip perkataan Teto kepada Atik yang menjadi salah satu favorit saya: “Menerima kasih dan member kasih itu perkara yang satu tunggal, Tanpa ada yang menerima, orang juga tidak bisa memberi. Maka, menerima kasih sekaligus juga member kasih karena memungkinkan orang lain memberi kasih.” Itulah bahasa kasih yang dilihatkan oleh jati diri burung manyar.
Friday, May 22, 2015
One of my 2015 resolution I made is making a blog. At first, I'd like making new blog, new site, but kind of hard to find a website besides blogger that suits me well. So I just opened my old blog and reread it. My first thought is: FUNNY.
You know, how funny it is, to read what your mind was like yeeaaarrsss ago. How naive your thinking was, how calm you was, how much you have changed since then. And I think it is what makes blogging is useful. You can easily review your past, muse it, learn it, and now that you have contemplated, you can make a better self.
I was planning to delete my old blog because at first it is quite shameful. But, no, I will not delete it and I will continue my blog. I will make some changes, though. Just wait !! :)
I think I'm talking to myself. Who ever read my blog anyway? hahahah
Sunday, August 5, 2012
kita adalah saudara lama yang menjadi musuh
hanya karena politik busuk para pemuka agama sejak ratusan tahun yang lalu.
mempertahankan status quo
tidak mau kekuasaannya dicampuri umat lain
mendirikan dinding besar di antara kita
mengatakan Tuhan lah yang membuat dinding itu.
pertanyaannya adalah:
apakah mungkin Tuhan yang mereka bilang Maha Pengasih itu membenci ciptaannya?
Wednesday, April 25, 2012
do to the extreme
out of the paper line
flat to the dimensional world
what we do is what YOU wished to do.
do the extreme
out of the paper line
flat to the dimensional world
we are the illusion of our own fantasy
we are the illusion of your own fantasy
we are the symphony of strings in a harp
what we do is what you wished to do
Sunday, June 26, 2011
woa, my friend shared me this link on Facebook http://aci.detik.travel/
I have been obsessed to visit every places in Indonesia and it gives me hope. I've been trying to start traveling but it seems that budget and parents' permission and tight schedule always stop me. It's kinda stressing me out.
Looking at the pictures of exquisite Indonesia has always been breath taking. I want to see the scenery with my own eyes, I want to explore every inch of the city, I want to taste thousands of different culinary, I want to enjoy the cultural diversity in every city.
It is some kind of dilemma, tho, to choose Europe and Indonesia. But now I'm pretty sure to choose Indonesia. I'll save each cent of my money to discover every inch of the incredible Indonesia. I hope I am chosen in this ACI program.
Well if I'm chosen, I'll go eventhough I have to postpone a semester of my study. Wish me luck!!
Friday, April 15, 2011
Saturday, January 15, 2011
Friday, January 14, 2011
I would say: "is it dead-end? is it the destination I want? is it somewhere else? or is it a whole new place no one has ever been? why won't I be the first to see what's at the end of the road so that the others can take this path too some other time?"
it's 4.24 a.m and i haven't asleep. i just got home from my workshop; slept there for a few hours but was woken up by a swarm of mosquitoes and realized my friends had gone home and i'm all alone at the workshop. so i ended up going home and can't fall asleep surfing the internet randomly.
soo... my hippie friend tweeted a link at tweeter: http://www.templeofsacredsound.org/
and since he is an eccentric and philosophic one - he seems to be very interested in hindu and buddha - i opened the link.
such an interesting site, i guess. it says "We can transform the world with Our Love, Our Light, and Our Sound!" it got 3 different 'Tombs' and each plays different chants: Om, Ah, Hu. While you're listening to it, you can watch a video playing a transforming lights and patterns. Hypnotizing.
Drown in the chants at these hours making it more perfect. I remember my lecturer said: "our Muslim brothers starts the 5-time-prayer at 4.30 am. Why? I have a habit: waking up every 4 in the morning and read a book i'm reading. it's the perfect time to read because it's when the world is taking a breath and everything's calm. It's the perfect time to get closer to our God."
He was right, I agree.
Tuesday, December 14, 2010
Upbeat
You enjoy being around others and others enjoy being around you. You have a "live and let live" attitude; because you know that no one's perfect, you are forgiving and happy to give the benefit of the doubt.
You don't feel the need to be controversial or express contrary opinions all the time. You see no reason to go around rubbing people the wrong way.
Passionate
You are in touch with your emotions, and sometimes you react before you think. The good news: you don't tamp down your feelings. The bad news: you sometimes say or do things that you later wish you could take back.
You do not live your life on an even keel; you do not go for long periods without experiencing some mood swings.
Aesthetic
You appreciate art, beauty, and design; you know that they are not superficial but absolutely crucial to living the good life. You have good taste, and you're proud of it. Those with a high score on the "aesthetic" trait are often employed in literary or artistic professions, enjoy domestic activities — doing things around the house — and are enthusiastic about the arts, reading, and travel.
You don't think it's pretentious to be moved by art and beauty. You're not one of those who believe it doesn't matter what something looks like as long as it does its job.
Sympathetic
You have a knack for knowing what's going on in the hearts and minds of those around you, without their having to tell you explicitly. People tend to turn to you with their problems because they know you care, and that you will likely offer good advice and a helping hand.
You do not feel that people with sad stories are just looking for attention, or have brought their problems upon themselves.
Curious
You like to get to the bottom of things. You're not content knowing what someone did; you want to know why they did it.
You don't simply take things as they are and move on; you're not content skimming along on the surface; you don't feel you're wasting time by digging for the meaning of things.
Scrupulous
You are an honest, fair person. You don't lie or cheat to get ahead. You treat others with respect and hope for the same in return.
You do not feel that you are above the rules that everyone else follows; you are definitely not willing to do whatever it takes to get ahead.
Tender
You are gentle with others, both physically and emotionally. You are careful not to upset people and go out of your way to find the nicest way to say something. You naturally focus on the fact that the world is full of wonderful people, places, and things. More often than not, people with a high score on the "tender" trait enjoy spending time with children, love romantic movies, and are enthusiastic about making the world a better place.
You don't think of yourself as tough-minded or gruff, nor do you need to be seen as some kind of objective source of truth and rationality.
Introspective
You like your own company; you're a very interesting person. Tracking your own mental processes, knowing what you're thinking and why you do what you do, is important to you. Often, what's going on in your mind is more compelling than what's going on outside. For the most part, those with a high score on the "introspective" trait enjoy reading, taking long walks, learning new things, and other solitary activities.
You are not someone who is constantly looking to be among a group of friends; you never feel bored when you are by yourself.
Original
You are constantly coming up with new ideas. For you, the world as it exists is just a jumping-off place; what's going on inside your mind is often more interesting than what's going on outside.
You don't feel that the road to success is to be a realist and stick to the program; you never stop yourself from coming up with new ideas or telling the world what you're thinking about.
Reserved
You are somewhat shy, or at least unwilling to spend all your time socializing. With you it's true that "still waters run deep," which is why many of your acquaintances never get to know you well.
You are not always ready to talk at the drop of a hat. Whether you're in the office or at a party, you're not likely to be found gabbing away in the middle of a group of people.







