like the flowing river

be like the flowing river.
silent in the night.
be not afraid of the dark.
if there are stars in the sky,
reflect them back.
if there are clouds in the sky,
remember, clouds, like the river, are water.
so, gladly reflect them too,
in your own tranquil depths.

~manuel bandeira
Showing posts with label college. Show all posts
Showing posts with label college. Show all posts

Sunday, January 3, 2016

akhir akhirnya








Sudah tiga hari dan ketika saya selesai mengetik ini akan genap menjadi empat hari setelah bumi kembali di titik yang sama dalam mengelilingi matahari untuk kesekian kalinya. Kini sudah ke dua-ribu-enam-belas kalinya dihitung sejak Mesias lahir ke bumi. Dan tulisan
 ini akan menjadi tulisan pertama yang direkam blog ini dalam ronde yang ke-2016 ini.

Sampai selesainya tahun lalu, rasanya seperti rasa juga sudah mati. Dua ribu lima belas memang hebat. Dramatis bisa dibilang. Tapi dipenghujung serasa menyetir jalan yang tidak berkesudahan sampai-sampai lupa kalau sudah sekian kilometer terlewati. Aneh juga bukankah seharusnya jalan berliku, penuh lubang, macet, banyak hiburan, penuh pemandangan, akan sangat berkesan? Mungkin ini dampak dari studio kelima itu yang perlu waktu dua tahun untuk membereskannya. 

Tahun lalu penuh serendipity. Penuh ketidaksengajaan yang begitu sengajanya terjadi tanpa maksud. Studio lima akhirnya tertembus juga dengan tiga kali percobaan. Sampai-sampai tidak terasa akhirnya tapi tetap memuaskan. Nisa juga akhirnya selesai tugas paling akhiratnya walaupun masih ada satu mata kuliah yang tertinggal sehingga toganya tertunda setahun lagi. Berjuang bolak-balik Bandung-Singaparna yang menghabiskan waktu setidaknya 5 jam sekali jalan berhari-hari berturut-turut. Badan penuh dengan angin walau sudah 3 hari sejak terakhir ke Singaparna. Tetapi hasilnya produk saya dan Mega mendarat juga di Glasgow, Skotlandia; walaupun tidak menang. Dan, hey, yang paling menakjubkan adalah dari situ Dapur, kelompok yang sudah lama ingin kami jalankan, dapat terbentuk secara resmi juga bersama dengan Maul. 

Bertemu dengan ratusan keluarga Rotaract se-Asia Pasifik bersama dengan Nisa dan teman-teman Rotaract lain. Menambah saudara-saudara baru di sana sini. Kini tidak perlu lagi khawatir kalau jalan-jalan ke negeri orang. Dan saya dengan Nisa bak pasangan yang kemana-mana ngegelendot berdua (karena kapan lagi pacaran di hotel dengan saya memakai jas dan dia gaun cantik? Heheh).
Dan kini saya bertarung dengan rasa malas dalam delapan hari menuju sidang saya yang terakhir. Jujur saja sejak dua bulan yang lalu saya sudah tidak lagi fokus. Imajinasi di kepala sudah menguasai untuk gerak-gerik sesudah sidang pamungkas itu. Jalan ke Bali, Flores, Sumba, memulai Dapur, mencari desa, membuka warung Betutu, cari kontrakan, kawin (haha yang ini mah masih jauh). Rasanya jalan ini terlalu landai. Ketakutan yang terbesar adalah keterjalan saat harus melewati titik sidang. Semoga saja tidak mendadak jadi neraka. 

Tapi Natal ini pun tidak bergairah. Memang pada dasarnya tahun ini tahun tobat sekaligus tahun kemaksiatan. Pertobatan saya tampaknya hanya bertahan sampai bulan Februari atau Maret. Setelah itu hidup penuh maksiat dan dosa. Pun saya tidak mau berlumpur-lumpur bau bangkai datang ke gereja. Sehingga makin jadilah saya tidak ke gereja, walaupun mereka bilang ibadah itu adalah proses pembersihan diri. Tapi tetap saja, siapa yang punya muka datang kembali ke ayah yang telah kau tinju lalu kau minta maaf lalu setelah dimaafkan kau tinju lagi berkali-kali lipat? Sudah pasti ayahmu akan mengampuni, tetapi malukah? Bertobatpun belum siap takut nafsu membawa tinju ini ke ayahmu. Pada akhirnya rumah ayah tidak didatangi sama sekali berbulan-bulan bahkan pada rangkaian peringatan hari lahirnya. 

Bagaimanapun juga pelajaran berharga tetap terpetik. Tidak datang ke seremonial malam natal akhirnya melepaskan saya dari bentuk fisik semu dari perayaan natal yang hanya menjadi steroid nafsu konsumtif masyarakat saja dengan segala hingar bingar keglamorannya. Dengan ditinggal seluruh keluarga liburan juga akhirnya menyadarkan saya kalau saya kangen keluarga yang jarang sekali saya temui itu. Juga dengan tahun baru yang hanya dirayakan dengan berdoa bersama papi mami, makan es krim, dan minum bir. Nikmat yang lebih nikmat daripada membakar uangmu untuk meledak di udara dalam sekian detik, percayalah. Akhirnya saya belajar esensinya, sari dari inti yang di dalam, bukan kulit daging yang di luar.

Akhirnya ini semua pada akhirnya. Tahun berganti dan masih perlu memanaskan semangat dan motor gerak ini supaya tidak kadung dingin setelah limat hari didiamkan. Tidak sabar menjerami sungai di bawah, memacul gua batu menembus gunung, mengangkat diri ke puncak gunung di atas sana.


Maafkan tulisan yang semakin saja berantakan ini. Sepertinya tugas akhir ini memang pada akhirnya harus diakhiri. Semoga cepat berakhir. Mohon doanya.


Friday, October 30, 2015

n i ssssssa



Malam hiruk. Gelap pikuk. Instrumen-instrumen musik ditata, disiapkan, menyiapkan sebuah permainan melodi dan nada yang terangkai dan mengharmoni. Kuning cahaya memberikan kemilau seadanya pada wujud-wujud di sana. Hari itu, malam itu, didedikasikan untuk sahabat saudara sebuah jurusan yang menempati gedung paling tua, sedang bertarung melawan sel-sel ganas yang mengamuk di tubuhnya. Materi seadanya dikumpulkan, berharap seadanya itu cukup untuk kami ada di sisinya melawan amukan tubuhnya sendiri. 

Ini sebuah momen humanis. Momen kekeluargaan. Momen makhluk sosial bersosial. Momen manusia bermanusia. Momen sang eksisten mengeksistensikan dirinya.
Sang Jantan berlalulalang. Beradu gaya, beradu eksistensi. Para perempuan berjalan seakan itu panggung. Memoles propertinya, mempromosikan propertinya, begitu istilah Nukila Amal. Diam menjadi terbelakang. Berada di luar lingkaran adalah memalukan.
Aku duduk di belakang. Di luar lingkaran. Observasi terhadap sebuah momen krusial manusia itu. Dua temanku bersama saya, ikut termangu melihat kemanusiaan yang terjadi.

Hingga suatu detik, bunga rumput di antara bunga-bunga mawar bunga-bunga matahari bunga-bunga lili muncul dari permukaan. Datang entah dari mana. Tidak memoles tidak membusung. Duduk di luar lingkaran, mungkin enggan berada di antara bunga-bunga narisistis itu, ikut mengamati.
Sedari dulu aku selalu tertarik terhadap yang biasa, tidak menonjol, tidak membusung, tidak mencolok, tidak disorot sekian lusin lampu di tengah panggung disoraki penonton. Yang biasa itu adalah yang tidak biasa. Menjadi tinggi oleh kerendahannya. Dituju mata seperti nada biru yang diam di antara nada-nada kuning dan merah yang mencolok. Diam, tetapi lantang. Indah. Sahaja. Tinggi, tidak meninggi dan meninggikan. Dengan alami seperti bambu menyejukkan merunduk bergemulai tertiup angin eksotis, bukan cemara yang tinggi besar dingin angkuh tajam. 

Sering kali di dalam hidup satu detik, hanya satu detik saja, mengubah segalanya. Satu kata yang keluar dalam satu detik memutus keluarga, persahabatan, hubungan. Satu tinju dalam satu detik menghacurkan sekota. Satu tatap dalam satu detik memecut orang-orang. Satu pikiran dalam satu detik mengubah laku dan aksi. Satu senyum dalam satu detik mewarnai hidup monokrom. Satu terima kasih dalam satu detik mengangkat hati hancur. Satu kasih sayang, hanya dalam satu detik, mengubah takdir hidup.

Dan satu detik itulah pikiranku mengubah tekadku. Di dalam satu detik itu tekadku mengubah laku dan aksiku. Di dalam satu detik itu, takdirku ditentukan. Ketidakpercayaan diri tertimbun. Keyakinan muncul ke permukaan. Kuncup-kuncup muncul dari dalam tanah yang menggulita. Mencari cahaya, mengikuti cahaya, tumbuh dan semakin besar – hanya dalam satu detik. Alam bawah sadar menguasai. Jangan ragu, katanya. Ini bukan nafsu seorang pria yang hanya melihat wanita sebagai benda yang dapat dinikmati. Ini bukan pandangan pertama yang dikuasai hormon testoteron purba yang hanya mengandalkan selangkangan. Ini adalah rasa abstrak yang tenang, ringan, lembut, tapi menguasai. Inilah rasa yang selalu kau nanti, yang kau pikir ada di tubuhmu tahun lalu tapi ternyata salah. Inilah yang kau tunggu, takdirmu telah menunggu dan kini kau yang memutuskan.

Otot-otot bergerak bergerak tanpa menunggu perintah. Paha mendorong naik, pinggul mengangkat, tangan menyimbangkan, kaki bergerak. Aku sudah berada di depannya, meminta simbol yang diberikan kepadanya saat ia lahir, yang dibawanya hingga mati nanti. Nisa, dia bilang, atau panggil saja Enca. Haha, lucu sekali namanya. Nama yang selalu aku pikir indah. Nama yang selalu ingin aku sebut-sebut. Nisa Nisa Nisa. Melodi antara ‘i’ dan ‘sa’ yang sangat indah. Lidah menyentuh atap mulut sesaat lalu dilepas, dan menyentuh lagi agak lama sambil agak berdesis ‘ssssa’. 

Inilah malam kemanusiaan. Malam manusia menjadi manusia. Malam manusia menentukan takdirnya. 

Dan aku telah menentukan takdirku. Aku kini telah menjadi manusia.

16/07/15

Tuesday, August 4, 2015

di bawah lampu remang



Lama Ia menunggu
Sesekali ia maju sedikit
                dengan ragu
Atau mungkin enggan adalah kata yang lebih tepat
Ia lalu kembali mundur

Segelintir manusia sudah berada di dalam
Duduk saling berjauhan
                Seorang sudah berpangku tangan
                Seorang sudah bersandar setengah sadar
                Seorang sudah menjelajah dunia lain
                Seorang sudah menjelajah alam di dalam dirinya
Tidak ada jiwa di bawah lampu remang-remang
                yang hanya menerangi ruang itu seadanya

Sang Ia pun hanya terus menoleh ke belakang
Sesekali Sang Ia hanya maju sedikit
Namun hanya harapan yang ia berikan
Satu langkah ia maju
Sepuluh kaki ia mundur
                CK!!!
                Sebuah lidah berdecak
                Hmmmmmhhhhh.....
                Sebuah nafas terhela
                Tok tok tok tok. Tok tok tok tok. Tok tok tok tok.
                Empat jemari membuat irama
                Dug dug dug dug dug. Dug dug dug dug dug.
                Sebuah kaki tidak mampu diam
Ia maju sedikit untuk menenangkan
                Si lidah
                Si nafas
                Si tangan
                Dan si kaki
Ternyata hanya harapan yang Ia berikan
Hanya tiga langkah ia maju

Kembali diam.

Sepasang mata berputar dari kiri ke atas lalu ke kanan
Sepasang tangan melipat
Sebuah dagu bertumpu di tangan
Sebuah punggung menyandar
Tetap saja di bawah lampu remang-remang itu
                tidak ada jiwa di sana

Kapan Sang Ia tidak hanya memberi harapan dan kembali diam
Kapan Sang Ia akan maju?
Kapan Sang Ia melaju?



Hanya ketika sang lidah berkata
                “Bang! Maju Bang!”
Sang tangan menepuk pundak Sang Ia berkata
                “Bang! Cepetan Bang!”
Sang kaki mendekat dan berkata
                “Bang! Gue turun nih kalo ga jalan-jalan Bang!”

Hanya ketika seluruh jiwa berkumpul
                Di bawah lampu remang-remang itu.

Friday, January 14, 2011

When I take a path no one has taken before and they say: "Why do you choose that path? No one has ever taken it before and you don't know what's at the end of it!"

I would say: "is it dead-end? is it the destination I want? is it somewhere else? or is it a whole new place no one has ever been? why won't I be the first to see what's at the end of the road so that the others can take this path too some other time?"

Sunday, November 7, 2010

we're smarter than you guys! :P


Now I can feel how art students and engineering students are different.

We had a congratulating party for our seniors yesterday after graduation ceremony. The party was made by the youngest class which is my class, 2010. Well, the party was failed. But I did have an unforgettable moment on the welcoming of the graduates. It was true that we, art students, are brutal.

On the welcoming, each majors stood in each row, with their own preparation and shouting their own yells. FYI, there are 9 engineering majors at Itenas, while there are only 3 art and design majors which are Product Design, Visual Communication Design, and Interior Design. And, compared to them our students are much less and half of them are girls, unlike them which is like 90% of the are boys. So, we were truly lose in amount and voice.

What interesting was it was we who gained attention from people. Yes, they were much louder. We were much more creative and smart, tho. More than 1000 engineering students in their own black organizational uniforms lifted their hand and shouted loudly. But, around 200 of us shouted with our costumes, we danced, we sang, we played music.
our "dancer"

Art and Design majors have always had tradition to be creative and out of ordinary. We always have our own themes for welcoming graduates party. This year my major Product Design took ALOHA, Visual Communication Design took Halloween, and Interior Design took Sundanese. We never care what people think about us. All we care is that we have fun.They might think we are crazy, impolite, unethical, and stupid. But, right there, we proved who were smarter.
Visual Communication Design students

We at first shouted at the same time the engineers shouted. And the result was as what we had expected, we lose. So, we had our own strategy. We sat, and shut our mouth when engineers shouted without taking a glance on them. When they were taking breath, we shouted our yell as loud as we can, hit our drums and gamelan as hard as we can, danced as attractive as we can. As we started to get tired we would sit again and let them shout. We would shouted again when they started getting tired.

And, what made it crazier is that we were not just shouting our yells. We read a PRAYER and sang NATIONAL SONGS loudly! It was great to see that they couldn't fight back and they just shouted "sampah sampah sampah". And we read another prayer and, again, they couldn't shout back! HAHAH!
leading the "choir"


That gave me conclusion, tho:
Engineering students have always been boasting themselves that they are intelligent, smart and logical. And looked down on Art and Design as a stupid, illogical, ignorant, and crazy people. But, in fact, we were much smarter and logical. Yes we are brutal, but we have the art of brutality and not conservative like engineers. We were just people who are blessed with perfection in the balance of imagination and logic, art and science :D





Friday, September 24, 2010

grateful I was not accepted at ITB

thanks God for not letting me go to San Francisco
thanks God for showing me the way to Bandung
thanks God for not putting me into ITB
thanks God for putting me into Itenas
thanks God for the great lecturers
thanks God for the amazing lectures since the first day at Itenas

I don't know what's Your plan
I don't know how You're working on me
I don't know how You see my future

but I'm grateful for everything I have until today
I'm grateful for all the journey I've gone through

I believe You have a great plan on me.


I DO REALLY LOVE ITENAS!! I'VE MET THE GREATEST TEACHERS OF ALL!!

Wednesday, September 22, 2010

it is the 4th day and i think i had made a pretty good progress.

this afternoon after class we hanged out at workshop. most of the boys and 2 girls. just played around and had fun. (in fact, most of us couldn't go home as it was raining heavily and we were trapped at the workshop with a horribly hungry stomach.)

we moved to a cheap small restaurant when the rain stopped. there were 12 of us. i tried to jumped in so that i could know them better and making friends with the other people i hadn't know.

well, it didn't go pretty good. it's hard for me to join the conversation. and worse, they used sundanese frequently that i didn't understand them. but it went better as our conversation went farther, tho. i could join the conversation and we laughed together. pretty fun. it was like 1-1,5 hour until we moved to the workshop again to meet some of our seniors.


overall, everything went pretty good. i got pretty many friends at once. such a progress for me! yet, there's something i gotta pay to make friends, i think: my health. i just can't imagine hanging out with them all the time. there are 36 students in my class and 8 of them are women meaning 28 the rest are men. and, it is like around 20 of the men smoke. they smoke whenever they got time, during the break, or when we're hanging out afterclass. and for this first time, i couldn't stop coughing, i kept holding my breath and blowing the smokes. and when i got home, even until now, my throat feels terrible! i just can't imagine i will be with them for 4 years. how my lungs will be?

Tuesday, September 21, 2010

can i survive?

it's been the 5th day i moved to bandung.

all new environment. new society. new people. new rules. new culture. new blahblahblah...

i'm a bit stressed out right here. i know it's still in Indonesia and it's nothing like a remote city out of Java or even some other countries. the fact is that it is just a few hundred kilometer away from Jakarta and one of the largest city in Indonesia.

yet, still, i find it really different from my last environment, where it is like 99% of my friends are pretty the same with me. they have the same religion, the same way of making friends, hanging out, flirting, cultures, and so on. my campus is still in Indonesia and it feels like somewhere in another country. i feel like i'm an alien.

it has been hard for me in adapting myself into new societies. but this one's much harder than i thought. like, boys smoke, like 95 percent of them and i don't. those who smoke have chance to get to know each other better, but since i can't stand being among horrible smokes, i don't join in therefore it's hard for me to know them.


it's been the third day at campus and i just knew 6 people. can i survive in this 4 year college?

Sunday, September 19, 2010

i am serious about saving up money up to 50million rupiah. Well, I know I won't have it in just 1 or 2 years. even if i can save like 200K per month, it will be just 2,4million per year meaning it needs 20 years to reach 50million.

but, of course, i will have my own income sooner or later. well, it will be in 5 years at the latest until i have my own income and career. and, more, i hope by taking industrial design i can make something before i graduate and earn lots of money from there.

my mom told me not to save money by reducing my meal portion. but, i think i will, tho! sorry mom :P