like the flowing river

be like the flowing river.
silent in the night.
be not afraid of the dark.
if there are stars in the sky,
reflect them back.
if there are clouds in the sky,
remember, clouds, like the river, are water.
so, gladly reflect them too,
in your own tranquil depths.

~manuel bandeira

Monday, July 20, 2015

pariwisata dan model


Pariwisata benar-benar menjadi tren yang semakin lama semakin memukau banyak negara dan pemerintah di berbagai negara. Negara-negara, kota-kota, para pemerintah, gubernur, walikota, seakan menjadi pragawati berlenggak-lenggok di atas panggung memamerkan tubuhnya yang elok dan benda-benda memukau yang dipakaikan ke tubuhnya. Para perancang mencari model dengan tubuh ideal, sesuai dengan kepentingan-kepentingan yang mengikat idealismenya dengan pasar, klien, dan pengusaha. Tapi, tentu yang utama, adalah prestige. Keinginan dan kebutuhan manusia yang paling tinggi menurut Maslow. Sebuah aktualisasi seseorang atau kelompok, menunjukkan ‘apa’ dirinya di antara orang lain. Masing-masing melabeli diri mereka sendiri: amazing, incredible, truly, experience, fabulous. Jutaan, miliaran, bahkan triliunan dengan mudah dikeluarkan untuk mempersolek, memoles,  mengoperasi wajah dan tubuhnya.



seorang wanita Bali membawa bebantenan di atas kepalanya dalam pawai keagamaan di Ubud, 
berlatar belakang toko-toko komersil yang merajai kota Ubud.


Tapi, bahkan seorang model pun, yang seharusnya punya karakter, kekhasan, jiwa,  seringkali mengimitasi orang lain. Merasa dirinya lebih baik dengan menjadi seperti seseorang lainnya yang lebih baik dari dirinya. Atau, mengukur, membanding-bandingkan, menyama-nyamakan dirinya dengan individu lain. Apakah ia lebih tinggi, cantik, elegan, modern, putih, besar, meliuk, melenggok, semok, kaya, berkemilau, terbuka, seksi, menarik. Mungkin ia juga berpikir jika ia lebih pendek, jelek, miskin, kurus, rata, kurang perhiasan, membosankan, hitam, kecil. Bukankah seharusnya ia merenungkan, menelisik, melihat jauh ke dalam dirinya sendiri? Jati dirilah yang membuat seorang biasa menjadi memukau. Biru bukan warna mencolok. Tapi, satu biru yang berada di antara banyak warna merah dan kuning yang mencolok akan menguasai bidang itu. Apa pula yang menjadi ukuran kurang atau lebih? Ukuran hanyalah jendela yang diciptakan orang banyak. Jendela yang membuka pemandangan di luar rumah, tetapi terbatas kusen jendela itu sendiri. Padahal dunia di luar tidak lah terbatas kayu, logam, plastik, kaca, atau apa pun itu. Begitu pula diri kita yang tidak terbatas dan tidak dibatasi. Apa salahnya menjadi pendek? Apa salahnya menjadi hitam? Apa salahnya berbadan lebar? Apa salahnya tidak berperhiasan emas? Apa salahnya tidak menggunakan pakaian yang menelanjangi karena imannya?


Menurut saya begitu juga pariwisata seharusnya dibentuk. Bukan dengan ingin membuat taman seperti Central Park-nya New York, atau membuat gedung seperti Marina Bay-nya Singapura, atau membangun gedung-gedung bergaya Yunani klasik tidak estetik di Bali. Pariwisata seharusnya mengundang orang-orang asing untuk mengenal apa itu Borobudur, mengapa Borobudur dibangun, seperti masyarakat yang membangunnya, bagaimana inti kepercayaan dari masyarakat itu. Borobudur yang menjadi pusat masyarakat Jawa Buddha saat itu ‘menunaikan haji’ pada masa itu kini hanya dijadikan bangunan batu besar yang bagus untuk dijadikan objek foto, tempat kencing, dinding untuk menuliskan ‘buDi w4s h3r3!!’, latihan parkour dan akrobat, dan tentunya tambang rupiah. Baiknya tingkat pariwisata tidak diukur dari seberapa grafik laba bersih meningkat tajam, berapa banyak orang asing yang berhasil digiurkan untuk datang ke tempat itu, sementara kepercayaan dilecehkan, norma diinjak-injak, etika dilucuti, penduduk lokal dirampas tanahnya dan diperbudak. Apa salahnya jika pengunjung sedikit? Pemerintah Bhutan berpikir lebih bijak dengan merancang pariwisata yang ‘rendah volume, tinggi kualitas’. 


Budaya, adat, tradisi, kepercayaan setempat justru diperkuat dan diutamakan dibandingkan kepentingan turis. Turis datang bukan sebagai raja, melainkan sebagai tamu atau saudara yang disambut dengan hangat untuk menetap sementara di rumah kita. Menyesuaikan norma dan etika, menghargai kepercayaan, dan belajar budaya dan tradisi setempat. Masyarakat lokal beraktifitas layaknya kehidupan mereka seharusnya. Ritual bukan untuk ditonton, beribadah bukan untuk difoto, mendoakan bukan untuk dibayar, melayani bukan untuk diberikan tips. Hidup bukan sebagai objek pameran dan tontonan. Hidup bukan untuk memuaskan orang asing.



No comments:

Post a Comment