Pariwisata benar-benar menjadi tren yang semakin lama
semakin memukau banyak negara dan pemerintah di berbagai negara. Negara-negara,
kota-kota, para pemerintah, gubernur, walikota, seakan menjadi pragawati
berlenggak-lenggok di atas panggung memamerkan tubuhnya yang elok dan
benda-benda memukau yang dipakaikan ke tubuhnya. Para perancang mencari model
dengan tubuh ideal, sesuai dengan kepentingan-kepentingan yang mengikat
idealismenya dengan pasar, klien, dan pengusaha. Tapi, tentu yang utama, adalah
prestige. Keinginan dan kebutuhan
manusia yang paling tinggi menurut Maslow. Sebuah aktualisasi seseorang atau
kelompok, menunjukkan ‘apa’ dirinya di antara orang lain. Masing-masing
melabeli diri mereka sendiri: amazing,
incredible, truly, experience, fabulous.
Jutaan, miliaran, bahkan triliunan dengan mudah dikeluarkan untuk mempersolek,
memoles, mengoperasi wajah dan tubuhnya.
seorang wanita Bali membawa bebantenan di atas kepalanya dalam pawai keagamaan di Ubud,
berlatar belakang toko-toko komersil yang merajai kota Ubud.
Tapi, bahkan seorang model pun, yang seharusnya punya
karakter, kekhasan, jiwa, seringkali
mengimitasi orang lain. Merasa dirinya lebih baik dengan menjadi seperti
seseorang lainnya yang lebih baik dari dirinya. Atau, mengukur,
membanding-bandingkan, menyama-nyamakan dirinya dengan individu lain. Apakah ia
lebih tinggi, cantik, elegan, modern, putih, besar, meliuk, melenggok, semok,
kaya, berkemilau, terbuka, seksi, menarik. Mungkin ia juga berpikir jika ia
lebih pendek, jelek, miskin, kurus, rata, kurang perhiasan, membosankan, hitam,
kecil. Bukankah seharusnya ia merenungkan, menelisik, melihat jauh ke dalam
dirinya sendiri? Jati dirilah yang membuat seorang biasa menjadi memukau. Biru
bukan warna mencolok. Tapi, satu biru yang berada di antara banyak warna merah
dan kuning yang mencolok akan menguasai bidang itu. Apa pula yang menjadi
ukuran kurang atau lebih? Ukuran hanyalah jendela yang diciptakan orang banyak.
Jendela yang membuka pemandangan di luar rumah, tetapi terbatas kusen jendela
itu sendiri. Padahal dunia di luar tidak lah terbatas kayu, logam, plastik,
kaca, atau apa pun itu. Begitu pula diri kita yang tidak terbatas dan tidak
dibatasi. Apa salahnya menjadi pendek? Apa salahnya menjadi hitam? Apa salahnya
berbadan lebar? Apa salahnya tidak berperhiasan emas? Apa salahnya tidak
menggunakan pakaian yang menelanjangi karena imannya?
Menurut saya begitu juga pariwisata seharusnya dibentuk.
Bukan dengan ingin membuat taman seperti Central Park-nya New York, atau
membuat gedung seperti Marina Bay-nya Singapura, atau membangun gedung-gedung
bergaya Yunani klasik tidak estetik di Bali. Pariwisata seharusnya mengundang
orang-orang asing untuk mengenal apa itu Borobudur, mengapa Borobudur dibangun,
seperti masyarakat yang membangunnya, bagaimana inti kepercayaan dari
masyarakat itu. Borobudur yang menjadi pusat masyarakat Jawa Buddha saat itu
‘menunaikan haji’ pada masa itu kini hanya dijadikan bangunan batu besar yang
bagus untuk dijadikan objek foto, tempat kencing, dinding untuk menuliskan
‘buDi w4s h3r3!!’, latihan parkour dan akrobat, dan tentunya tambang rupiah.
Baiknya tingkat pariwisata tidak diukur dari seberapa grafik laba bersih
meningkat tajam, berapa banyak orang asing yang berhasil digiurkan untuk datang
ke tempat itu, sementara kepercayaan dilecehkan, norma diinjak-injak, etika
dilucuti, penduduk lokal dirampas tanahnya dan diperbudak. Apa salahnya jika
pengunjung sedikit? Pemerintah Bhutan berpikir lebih bijak dengan merancang
pariwisata yang ‘rendah volume, tinggi kualitas’.
Budaya, adat, tradisi, kepercayaan setempat justru diperkuat
dan diutamakan dibandingkan kepentingan turis. Turis datang bukan sebagai raja,
melainkan sebagai tamu atau saudara yang disambut dengan hangat untuk menetap
sementara di rumah kita. Menyesuaikan norma dan etika, menghargai kepercayaan,
dan belajar budaya dan tradisi setempat. Masyarakat lokal beraktifitas layaknya
kehidupan mereka seharusnya. Ritual bukan untuk ditonton, beribadah bukan untuk
difoto, mendoakan bukan untuk dibayar, melayani bukan untuk diberikan tips.
Hidup bukan sebagai objek pameran dan tontonan. Hidup bukan untuk memuaskan
orang asing.
No comments:
Post a Comment