Lama Ia
menunggu
Sesekali ia
maju sedikit
dengan ragu
Atau mungkin
enggan adalah kata yang lebih tepat
Ia lalu
kembali mundur
Segelintir
manusia sudah berada di dalam
Duduk saling
berjauhan
Seorang sudah berpangku tangan
Seorang sudah bersandar setengah
sadar
Seorang sudah menjelajah dunia
lain
Seorang sudah menjelajah alam di
dalam dirinya
Tidak ada
jiwa di bawah lampu remang-remang
yang hanya menerangi ruang itu
seadanya
Sang Ia pun
hanya terus menoleh ke belakang
Sesekali Sang
Ia hanya maju sedikit
Namun hanya
harapan yang ia berikan
Satu langkah
ia maju
Sepuluh kaki
ia mundur
CK!!!
Sebuah lidah berdecak
Hmmmmmhhhhh.....
Sebuah nafas terhela
Tok tok tok tok. Tok tok tok
tok. Tok tok tok tok.
Empat jemari membuat irama
Dug dug dug dug dug. Dug dug dug
dug dug.
Sebuah kaki tidak mampu diam
Ia maju
sedikit untuk menenangkan
Si lidah
Si nafas
Si tangan
Dan si kaki
Ternyata
hanya harapan yang Ia berikan
Hanya tiga
langkah ia maju
Kembali diam.
Sepasang mata
berputar dari kiri ke atas lalu ke kanan
Sepasang
tangan melipat
Sebuah dagu
bertumpu di tangan
Sebuah
punggung menyandar
Tetap saja di
bawah lampu remang-remang itu
tidak ada jiwa di sana
Kapan Sang Ia
tidak hanya memberi harapan dan kembali diam
Kapan Sang Ia
akan maju?
Hanya ketika
sang lidah berkata
“Bang! Maju Bang!”
Sang tangan
menepuk pundak Sang Ia berkata
“Bang! Cepetan Bang!”
Sang kaki
mendekat dan berkata
“Bang! Gue turun nih kalo ga
jalan-jalan Bang!”
Hanya ketika seluruh
jiwa berkumpul
Di bawah lampu remang-remang
itu.

No comments:
Post a Comment