like the flowing river

be like the flowing river.
silent in the night.
be not afraid of the dark.
if there are stars in the sky,
reflect them back.
if there are clouds in the sky,
remember, clouds, like the river, are water.
so, gladly reflect them too,
in your own tranquil depths.

~manuel bandeira

Friday, July 31, 2015

there, the journey started



Semester ini, apabila semua berjalan lancar dan dosen dan Tuhan mengehendaki, adalah semester terakhir saya menjalani fase kehidupan sebagai mahasiswa di Desain Produk Itenas. Sungguh fase yang sangat menakjubkan. Apabila saya seringkali dinasihati untuk memasrahkan langkah-langkah hidup kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, inilah salah satu tuntunannya yang luar biasa. Langkah yang di luar nalar saya bisa masuk ke institusi ini, jauh dari rencana awal saya namun membentuk saya sedemikian rupa hingga menjadi seperti sekarang ini. Bentuk yang dengan segala kelebihan dan kekurangannya sangat saya syukuri dan tanpa penyesalan sedikitpun.

Mimpi awal saya adalah menjadi pakar sekaligus aktivis sosial dan lingkungan. Saya pun berniat mengambil bidang Urban Studies di Amerika dengan Oom yang sudah bersedia membantu dan membiayai. Rencana pun berubah dengan adanya krisis ekonomi sejak tahun 2008. Saya pun mengubah haluan untuk mengikuti jejak kakak saya yang sudah lulus dari Industrial Design di Academy of Art. Saya mengikuti bimbel di Bandung selama 3 bulan terakhir masa SMA untuk mempersiapkan diri mengikuti USM ITB. Di saat teman-teman saya menghabiskan masa-masa terakhir SMA mereka dengan mengumpulkan sebanyak mungkin memori dan kenangan, saya harus mengorbankannya dengan bolak-balik Bandung-Jakarta tiap akhir pekan untuk bimbel. Saat-saat senggang di sekolah pun saya habiskan dengan latihan menggambar dan mengesampingkan waktu bermain saya. Semua demi tujuan saya untuk masuk ITB. Mungkin ini sudah menjadi obsesif.
Namun, apa dikata, Tuhan membimbing saya untuk masuk ke Itenas. Saya sempat frustrasi selama beberapa waktu. Seakan mengecewakan semua orang yang sudah mendukung dan berkorban demi saya. Tapi, pasrahlah saya menjalani rencana Tuhan yang lain. Tanpa penyesalan saya masuk dan terjun ke Desain Produk Itenas. Bahkan saya berambisi untuk membuktikan bahwa tidak ada bedanya kuliah di institut oren atau gajah sekalipun. Membuktikan keraguan-keraguan orang-orang di sekitar saya.

Tapi, sungguh, pengalaman yang jauh lebih indah dari masa-masa SMA. Saya bahkan sempat mengalami culture shock saat awal-awal masuk ke Gedung Satu ini. Gaya yang ‘ganjil’, rokok dimana-mana, bahasa yang asing, beda etnis, beda agama, beda kebiasaan, norma, etika. Belum lagi kegiatan-kegiatan yang sangat alien menurut saya. Ditambah kuliah yang benar-benar asing dari bidang-bidang mainstream. Ambisi tidak boleh mati, saya pun memutuskan untuk benar-benar terjun ke dalam kolam ini. 

Perjalanan yang menakjubkan adalah perjalanan yang penuh haling-rintang dan senyum lepas yang bisa didapatkan saat mencapai tujuan akhir. Lima setengah tahun di gedung ini sudah menjadi perjalanan yang penuh dengan itu semua. Dari tetap melek tiga hari non-stop, badan tidak tersentuh air dan sabun lima hari berturut-turut, tidur nyenyak di atas lantai bersama bambu dan rotan, frustrasi meluap menjadi tangis, puas sampai tidak merasakan apa-apa, lega selega-leganya, konflik dengan teman-teman, acara-acara dari yang sukses sampai goreng-garing, muak, kangen, sayang, cinta, benci, entah perasaan-perasaan apa lagi yang ada selama ini berkolase menjadi satu nirmana dimensi keempat dan kelima tiada tara.

Dengan tulisan ini  dan beberapa tulisan ke depan yang akan saya update setiap minggunya, saya ingin membagikan kepada teman-teman dan dosen-dosen dan penghuni gedung lainnya perasaan dan pikiran saya selama ini, dari yang positif kali positif sampai negatif tambah negatif. Maafkan saya apabila tulisan panjang bertele-tele saya menjadi membosankan, menyinggung, atau membuat suasana tidak enak. Saya hanya ingin membagikan supaya gedung yang kini sudah dihuni tiga keluarga menjadi lebih baik lagi, terutama untuk adik-adik yang baru memulai perjalanannya di gedung tertua di kampus kita dan dosen-dosen yang sudah tidak terhitung jasanya membangun gedung ini sedemikian rupa selama lebih dari dua puluh tahun. Terlepas dari setuju atau tidaknya para pembaca dengan tulisan saya, semoga itu bisa menjadi dinamika yang membuat roda gedung ini tetap berputar. Tulisan ini juga bukan untuk membusungkan dada, karena saya pun jauh di bawah teman-teman, bahkan adik-adik tahun pertama sekalipun. Tapi, lagi, tulisan saya hanya untuk berbagi.

Tuesday, July 21, 2015

lorong waktu



Malam yang lalu menjadi momen lorong waktu. Aku masuk ke kamar. Kamar yang kini tidak lagi menjadi tempat personalku, menutup pintu, menyalakan bohlam lampu, duduk, tidur, bermain gawai berselancar dunia maya. Kini ruang itu adalah ruang memori. Mengotak-ngotakkan dan membungkus segala macam artefak kehidupanku sejak pindah ke kota ini satu setengah dekade yang lampau. Yang ini di laci, yang itu di kardus, yang itu lagi di map, yang itu lagi di lemari, yang itu lagi sudah nyaris hilang wujud termakan kala. 

Mungkin hampir setiap orang mempunyainya. Sebuah bejana yang berisi segilintir benda yang di mata orang lain sepele. Tapi, jika si empunya membuka bejana itu, menyemburlah semua memori dan emosi yang ada di masa lalu kita. Kilatan-kilatan ingatan berlarian di pikiran. Berlomba-lomba memasuki tempat utama di otak kita, berebut lampu panggung utama. Yang ini muncul dan langsung tergantikan oleh masa yang lain lalu yang lain mulai menggantikan lagi. Bermunculan tak terkendali, bahkan yang kita kira ia sudah tidak lagi di sana. Seenaknya memainkan emosimu, seakan kamu adalah banteng yang sengaja dipecut supaya para koboi-koboi dapat mengadu ketahanan berada di pundakmu yang mengamuk-amuk. Tawa ketika melihat teman-temanmu bercanda konyol, kegalauan remaja diputus cintanya, kealayan diri sendiri saat jatuh cinta, atau surat-surat cinta monyetmu dulu, tukar-tukaran contekan, konflik dengan sahabatmu yang sebenarnya tidak masuk akal, pamer-memamer kepada manusia berkelamin lawan. Dalam sekejap semuanya keluar begitu saja.

Tumpukan lembar-lembar pelajaran sekolahmu pun satu per satu dibuka, dibaca kembali. Mengingat-ingat apa saja yang dulu kita tongkrongi dari jam setengah delapan pagi sampai setengah empat sore. Membayangkan kita menghayal-hayal saat celotehan guru berkumandang berjam-jam. Merasakan kembali tegangnya saat-saat akan ujian, melanglang entah ke mana obrolan kita saat belajar bersama. Nilai-nilai 4, 6, yang muncul. Tapi sumringahmu pun tidak tertahankan mendesak bibirmu ketika 9 dan 10 kau dapatkan. Guru-guru yang begitu menginspirasi dan mengubah hidupmu selamanya sampai mereka yang engkau benci setengah mati dahulu tapi berterimakasih kini. 

Pikiran-pikiran naifmu yang sungguh naïf sampai sekarang pun. Cita-citamu yang akhirnya kesampaian dan sebagian lagi bahkan engkau lupakan dan buang jauh-jauh. Idealisme yang bermetamorfosis. Keyakinan tumbuh. Otot rasional yang tumbuh semakin kuat menopang idealnya pikiranmu. 

Semuanya ada di sana. Dan saat kau berada hampir di ujung lorong waktu itu, semuanya mereda. Engkau menghela nafas. Menoleh ke belakang sebelum melangkahkan kaki ke luar. Dan engkau melihat betapa jauhnya perjalananmu walaupun itu mungkin belum seperempatnya hidupmu nanti. Bersyukur atas semuanya yang telah terjadi yang telah membentukmu sedemikian rupa, entah itu baik atau buruk, menyenangkan atau malah menjadi teror di benakmu, inilah dirimu sekarang. Lalu engkau mengembalikan wajahmu ke depan, menyiapkan semua indera ke masa depan. Dan kita pun melangkah ke luar – melanjutkan lorong yang kita gali dan bangun. Entah di mana ujungnya.


Semua sudah direncanakan oleh-Nya, kita hanya perlu meraki.

Monday, July 20, 2015

pariwisata dan model


Pariwisata benar-benar menjadi tren yang semakin lama semakin memukau banyak negara dan pemerintah di berbagai negara. Negara-negara, kota-kota, para pemerintah, gubernur, walikota, seakan menjadi pragawati berlenggak-lenggok di atas panggung memamerkan tubuhnya yang elok dan benda-benda memukau yang dipakaikan ke tubuhnya. Para perancang mencari model dengan tubuh ideal, sesuai dengan kepentingan-kepentingan yang mengikat idealismenya dengan pasar, klien, dan pengusaha. Tapi, tentu yang utama, adalah prestige. Keinginan dan kebutuhan manusia yang paling tinggi menurut Maslow. Sebuah aktualisasi seseorang atau kelompok, menunjukkan ‘apa’ dirinya di antara orang lain. Masing-masing melabeli diri mereka sendiri: amazing, incredible, truly, experience, fabulous. Jutaan, miliaran, bahkan triliunan dengan mudah dikeluarkan untuk mempersolek, memoles,  mengoperasi wajah dan tubuhnya.



seorang wanita Bali membawa bebantenan di atas kepalanya dalam pawai keagamaan di Ubud, 
berlatar belakang toko-toko komersil yang merajai kota Ubud.


Tapi, bahkan seorang model pun, yang seharusnya punya karakter, kekhasan, jiwa,  seringkali mengimitasi orang lain. Merasa dirinya lebih baik dengan menjadi seperti seseorang lainnya yang lebih baik dari dirinya. Atau, mengukur, membanding-bandingkan, menyama-nyamakan dirinya dengan individu lain. Apakah ia lebih tinggi, cantik, elegan, modern, putih, besar, meliuk, melenggok, semok, kaya, berkemilau, terbuka, seksi, menarik. Mungkin ia juga berpikir jika ia lebih pendek, jelek, miskin, kurus, rata, kurang perhiasan, membosankan, hitam, kecil. Bukankah seharusnya ia merenungkan, menelisik, melihat jauh ke dalam dirinya sendiri? Jati dirilah yang membuat seorang biasa menjadi memukau. Biru bukan warna mencolok. Tapi, satu biru yang berada di antara banyak warna merah dan kuning yang mencolok akan menguasai bidang itu. Apa pula yang menjadi ukuran kurang atau lebih? Ukuran hanyalah jendela yang diciptakan orang banyak. Jendela yang membuka pemandangan di luar rumah, tetapi terbatas kusen jendela itu sendiri. Padahal dunia di luar tidak lah terbatas kayu, logam, plastik, kaca, atau apa pun itu. Begitu pula diri kita yang tidak terbatas dan tidak dibatasi. Apa salahnya menjadi pendek? Apa salahnya menjadi hitam? Apa salahnya berbadan lebar? Apa salahnya tidak berperhiasan emas? Apa salahnya tidak menggunakan pakaian yang menelanjangi karena imannya?


Menurut saya begitu juga pariwisata seharusnya dibentuk. Bukan dengan ingin membuat taman seperti Central Park-nya New York, atau membuat gedung seperti Marina Bay-nya Singapura, atau membangun gedung-gedung bergaya Yunani klasik tidak estetik di Bali. Pariwisata seharusnya mengundang orang-orang asing untuk mengenal apa itu Borobudur, mengapa Borobudur dibangun, seperti masyarakat yang membangunnya, bagaimana inti kepercayaan dari masyarakat itu. Borobudur yang menjadi pusat masyarakat Jawa Buddha saat itu ‘menunaikan haji’ pada masa itu kini hanya dijadikan bangunan batu besar yang bagus untuk dijadikan objek foto, tempat kencing, dinding untuk menuliskan ‘buDi w4s h3r3!!’, latihan parkour dan akrobat, dan tentunya tambang rupiah. Baiknya tingkat pariwisata tidak diukur dari seberapa grafik laba bersih meningkat tajam, berapa banyak orang asing yang berhasil digiurkan untuk datang ke tempat itu, sementara kepercayaan dilecehkan, norma diinjak-injak, etika dilucuti, penduduk lokal dirampas tanahnya dan diperbudak. Apa salahnya jika pengunjung sedikit? Pemerintah Bhutan berpikir lebih bijak dengan merancang pariwisata yang ‘rendah volume, tinggi kualitas’. 


Budaya, adat, tradisi, kepercayaan setempat justru diperkuat dan diutamakan dibandingkan kepentingan turis. Turis datang bukan sebagai raja, melainkan sebagai tamu atau saudara yang disambut dengan hangat untuk menetap sementara di rumah kita. Menyesuaikan norma dan etika, menghargai kepercayaan, dan belajar budaya dan tradisi setempat. Masyarakat lokal beraktifitas layaknya kehidupan mereka seharusnya. Ritual bukan untuk ditonton, beribadah bukan untuk difoto, mendoakan bukan untuk dibayar, melayani bukan untuk diberikan tips. Hidup bukan sebagai objek pameran dan tontonan. Hidup bukan untuk memuaskan orang asing.



Saturday, July 18, 2015

Pak Tua memang sudah lanjut
Tua membentuk diri
Semilenium menjadi tua
Ia tua dilihat
Ia belia memesona

Pak Tua bijak berkuasa
Surga memberikannya api
Surga memberikannya air
Pak Tua menjadikannya permata
Parahyang menetap
Sahaya mati menetap

Bumi mengikuti kehendak tua
Diberikannya batu-batu melapuk berabad
Tunas-tunas merekah
Kayu putih menjulang mengelupas

 Pak Tua memanas Bumi lemas
Kekayu merengkel melapuk
Dedaun hitam mengabu 
Hasrat tua menggebu
Bernafas telur tujuh tahun usianya

Bumilah tubuh Pak Tua
Surgalah Pak Tua menjadikan
Mana langit mana bumi?
Dua dunia menyatu meniga

Saturday, May 23, 2015

burung-burung manyar

Baru saja menyelesaikan buku Burung-burung Manyar karya Romo Mangunwijaya. Pertama kali lihat buku itu Januari lalu tanpa pikir panjang saya langsung membelinya. Hanya baru sempat baca 13 Mei kemarin saat pergi ke Bali untuk mengisi waktu di perjalanan. Saya lahap buku itu saat sedang menunggu di bandara, di pesawat, di bus, di hotel, mana saja saat tidak ada kerjaan.
Awalnya saya benar-benar tidak mengerti buku apa ini. Saya hanya tertarik dari nama pengarangnya saja. Baca keterangan di belakangnya pun tidak bisa menjelaskan tentang apa buku ini. Tapi, yah, yakin saja dengan kualitas penulisnya, Romo Mangun. Tapi sebentar saya baca, hanyutlah saya ke dalam alur pemikiran si tokoh utama, Setadewa. Bahasanya begitu sederhana, lugas,polos, jujur, tetapi menusuk. Layaknya alam pikir orang-orang biasa. Benar-benar tidak seperti sangkaan saya bahwa buku ini bakal sangat formal dan berat karena diciptakan Romo Mangun yang sangat intelektual.

Awalnya juga saya bingung, kenapa sih judulnya Burung-burung Manyar. Kenapa burung? Seperti apa pula burung manyar itu? Sepanjang membaca buku saya mencoba-coba menghubungkan alur cerita dengan judul buku. Tetapi tetap saja tidak mengerti.

Rupanya Romo Mangun ingin menjelaskan karakter dan jalan hidup sang tokoh utama Setadewa yang bernama kecil Teto ini. Teto adalah seorang Sinyo ningrat, ber-ibu Indo ningrat dan ayah Jawa ningrat  yang menjabat Letnan di Tentara Kerajaan Belanda di Hindia, jabatan yang tinggi untuk ditempati oleh seorang berwarna. Tetapi begitu-begitu orangtuanya tidak suka dengan kehidupan dan watak para ningrat Jawa sehingga tidak hidup di lingkungan keraton. Ayahnya ceplas ceplos tetapi sangat jujur. Karakter ini menurun ke Teto yang adalah salah seorang anak kolong di Magelang, kotanya.

Kesamaan karakter juga ditemui pada karakter Atik kecil, Raden Ajeng Larasati. Ya, dari namanya dia juga anak seorang ningrat. Ibunya anak angkat keraton namun sangat rendah hati. Ayahnya pegawai kehutanan di Bogor. Tidak suka dengan lingkungan keraton, Atik hidup jauh situ. Ayahnya malah menjejalinya dengan buku sehingga Atik sangat suka alam, burung, membaca, sangat berwawasan dan kritis, karakter yang sangat sulit ditemui pada perempuan ningrat Jawa.
Atik dan Teto sempat bertemu dan bermain. Hanya saja tidak terlalu dekat. Atik tidak suka dengan Teto yang tidak punya aturan, nakal, dan pernah membuat kesepakatan permainan yang tidak adil. Atik pernah menampar Teto karena main cium Atik. Tetapi, Atik mengagumi Teto yang berani terjun ke sungai ketika topi ibunya jatuh terbawa angin saat sedang plesir di pinggir sungai.
Cerita berlanjut saat dunia mereka yang mapan berubah ketika Jepang datang menyerang Hindia. Ayahnya yang seorang letnan harus berpindah-pindah tempat untuk sembunyi karena mengatur gerakan bawah tanah melawan Jepang. Sementara Teto dengan Ibunya harus hidup dengan pas-pasan menumpang di rumah-rumah keluarganya. Sampai suatu hari, ketika ia sedang menempung pendidikan di Semarang,  ia dikirimi surat oleh seorang perempuan supaya ia datang ke Jakarta beserta dengan uangnya. Seminggu baru ia memenuhi undangan surat tersebut. Ternyata itu adalah Atik, dan katanya maminya ada di sana juga. Berlinang air mata mereka bertemu karena papinya ternyata tertangkap oleh Jepang. Praktis kehidupan Teto dan maminya bergantung kepada keluarga Atik. Tapi dari situlah Teto menjadi dekat dengan Atik layaknya abang dan adik. Sayang, keadaan diperparah beberapa waktu kemudian ketika ia dipanggil oleh maminya Atik, Ibu Antana, dengan suasana suram. Maminya menerima surat ultimatum dari pemimpin Jepang yang menangkap ayahnya, menjadi gundiknya atau suaminya dibunuh. Cintanya yang begitu besar kepada suaminya tentu saja membawanya mengorbankan diri. Marah, dendam, benci, sedih, depresi meliputi Teto kepada Jepang membulatkan niatnya untuk bergabung ke dalam KNIL  melawan Jepang dan melawan gerakan Soekarno.

Pilihan hidupnya membawanya menjauh sejauh-jauhnya dari Atik dan keluarga Antana. Atik memilih jalan hidup lain. Kepintaran dan nasionalismenya membawanya menjadi sekretaris Syahrir karena ayahnya pun juga ikut berjuang di pihak Soekarno. Atik memperjuangkan kemerdekaan, Teto melawan kemerdekaan. Akhirnya pun sudah kita ketahui, Republik akhirnya terbentuk dan Teto sebaga pihak yang kalah terpaksa tidak jelas menjadi warga negara mana karena akhirnya KNIL dibubarkan dan ia dicap sebagai pengkhianat bangsa.

Hidup berlanjut. Teto akhirnya menjadi manajer produksi perusahan minyak multinasional sebagai seorang ahli computer yang berharga 10 kali seorang menteri. Perusahaannya saat itu akan berinvestasi di Indonesia dengan model komputer atau hitungan minyak yang dibuat meleset sehingga merugikan Indonesia sebanyak jutaan dollar per tahun. Hati nurani dan prinsipnya menggerakkannya untuk memberitahukan model ini kepada pemerintah Indonesia. Temannya saat itu menganjurkannya kepada Janakatamsi, suami dari Ibu Larasati Janakatamsi. Kebetulan temannya diundang untuk hadir ke sidang doktoral Atik tetapi tidak bisa hadir sehingga diberikan ke Teto. Bertekad untuk akhirnya bertemu dengan Atik setelah puluhan tahun menghilang, Teto hadir di sidang tesis Atik hari itu yang berjudul Jati diri dan Bahasa Citra dalam Struktur Komunikasi Varietas Burung Ploceus Manyar.

Di sinilah ‘kesimpulan’ dari buku ini. Dalam presentasinya Atik menjelaskan bahwa burung-burung manyar jantan ketika musim kawin membangun sarang-sarangnya terlebih dahulu untuk memikat para betina, baru kemudian manyar betina akan memilih yang terbaik. Jantan yang tidak terpilih sarangnya lalu menghancurkan dan membangun ulang sarang yang telah dibuatnya untuk mengundang betina yang lain. “Dari mana datang perilaku yang mengaburkan pembatasan tajam antara yang disebut naluri yang dipastikan dan sikap sadar yang disanggup untuk memilih? Sanggup memilih mengandalkan suatu kemampuan untuk menimbang, untuk memegang kendali nasib, untuk berkreasi? ... Dari pihak lain, dari mana perasaan sedih dan kecewa dan kejengkelan yang lalu melolosi dan merombak sesuatu yang dinilainya gagal? Dari mana lalu datang tekad baru yang kreatif kembali, yang mengandalkan jiwa yang punya harapan, yang tidak menyerah hanyut namun aktif menimbulkan fajar yang baru?” Begitu pertanyaan yang dilontarkan oleh Atik dalam sidangnya. Pengetahuan mengenai pengambilan keputusan dan naluri nasib yang tunduk pada kepastian buta yang menolong kita memahami hal-hal yang kolektif, yang merupakan insting keharusan adat dan kebiasaan nasional, berpadu dengan segala yang kreatif, yang khas dan pribadi. Kita boleh memilih keputusan apapun yang akan berpengaruh terhadap jalan hidup kita, tetapi kita terikat dengan jutaan benang tak terlihat dengan alam raya.

Atik menjelaskan pula bahwa hidup ini tidak hanya mengenai kesimpulan perhitungan buta oleh komputer-komputer dingin. Hidup ini mendambakan innerlichkeit atau jati diri, suatu sumber kesadaran diri dalam lubuk kedalaman hakikat manusia yang senantiasa menjadi misteri. Jati diri inilah yang akan terbawa dalam kesadaran diri dan hasrat mencurahkan diri kepada makhluk lain. Dari sini timbul bahasa yang memancar ke luar, yaitu bahasa citra; citra-diri, ada-diri.

Atik kemudian bertemu dengan Teto dan keluarganya menganggap Teto sebagai abang. Cinta Teto kepada Atik terpaksa dipendam karena status pernikahan Atik dengan Jana yang sudah membuahkan 3 orang anak. Namun, Teto ingin membahagiakan mereka dengan menghadiahi mereka tiket haji. Namun, naas, kisah Setadewa dan Larasati berakhir dengan jatuhnya pesawat yang menerbangkan mereka ke Mekkah. Ia pun mengangkat ketiga anak mereka menjadi anaknya.

Di akhir cerita, Teto yang hatinya sudah dingin ketika menerima berita tersebut mempertanyakan mengapa hidupnya selalu dipenuhi dengan ketidaktercapaian. Namun, itulah ‘perhitungan’ yang telah terjadi. Melihat ketiga anak Atik dan Jana yang akan ia besarkan dan mekar mengingatkannya kepada burung manyar, yang mendedikasikan diri mereka untuk anak-anaknya bahkan sebelum mereka kawi

n, sebagai bahasa citra mereka. Untuk itulah perhitungan segala takdir hidupnya terjadi.

Buku ini benar-benar menghanyutkan saya. Jalan ceritanya begitu nyata. Emosi di dalamnya berluap. Alur terjadi seperti kenyataan yang menusuk dan kejam. Tapi kenyataan itu kenyataan seperti guru yang yang bijak mengajarkan hidup, walaupun tanpa ampun. Jati diri pula yang ternyata menjadi inti dari cerita ini. Jati diri dan bahasa citra. Jati diri bangsa Indonesia yang baru terbentuk sebagai bangsa yang telah lama terjajah. Bangsa yang bermental kuli, termangut-mangut di bawah orang asing dan ningrat dan telah kehilangan jati dirinya. Tidak lagi mempunyai harga diri.

 Menarik pula melihat banyak bagian-bagian buku ini yang menyinggung estetika, mengingat latar belakang si penulis yang juga seorang arsitek.  Romo Mangun juga mengkritisi bagaimana hilangnya identitas dan jati diri bangsa Indonesia tercermin dari arsitekturnya yang tidak lagi indah di tengah alam Indonesia yang begitu indah.

Menutup resensi buku ini, saya ingin mengutip perkataan Teto kepada Atik yang menjadi salah satu favorit saya: “Menerima kasih dan member kasih itu perkara yang satu tunggal, Tanpa ada yang menerima, orang juga tidak bisa memberi. Maka, menerima kasih sekaligus juga member kasih karena memungkinkan orang lain memberi kasih.” Itulah bahasa kasih yang dilihatkan oleh jati diri burung manyar.

Friday, May 22, 2015

It's been 3 years since the last time I updated my blog, which was like 1 year after the last update at 2010.

One of my 2015 resolution I made is making a blog. At first, I'd like making new blog, new site, but kind of hard to find a website besides blogger that suits me well. So I just opened my old blog and reread it. My first thought is: FUNNY.

You know, how funny it is, to read what your mind was like yeeaaarrsss ago. How naive your thinking was, how calm you was, how much you have changed since then. And I think it is what makes blogging is useful. You can easily review your past, muse it, learn it, and now that you have contemplated, you can make a better self.

I was planning to delete my old blog because at first it is quite shameful. But, no, I will not delete it and I will continue my blog. I will make some changes, though. Just wait !! :)

I think I'm talking to myself. Who ever read my blog anyway? hahahah

Sunday, August 5, 2012

demokrasi apanyaaa!!!
mematuhi peraturan lalu lintas saja tidak bisa
membuang sampah di tempatnya saja tidak bisa
orang seperti Anda tidak layak menikmati demokrasi
peraturan sederhana saja tidak mengerti
apalagi hukum
apalagi hubungan internasional!
tidak ada alasan untuk bermusuhan
kita adalah saudara lama yang menjadi musuh
hanya karena politik busuk para pemuka agama sejak ratusan tahun yang lalu.

mempertahankan status quo
tidak mau kekuasaannya dicampuri umat lain
mendirikan dinding besar di antara kita
mengatakan Tuhan lah yang membuat dinding itu.

pertanyaannya adalah:
apakah mungkin Tuhan yang mereka bilang Maha Pengasih itu membenci ciptaannya?

Wednesday, April 25, 2012

what we do is what WE wished to do.
do to the extreme
out of the paper line
flat to the dimensional world

what we do is what YOU wished to do.
do the extreme
out of the paper line
flat to the dimensional world

we are the illusion of our own fantasy
we are the illusion of your own fantasy

we are the symphony of strings in a harp
what we do is what you wished to do

Sunday, June 26, 2011

manado

woa, my friend shared me this link on Facebook http://aci.detik.travel/

wakatobi

I have been obsessed to visit every places in Indonesia and it gives me hope.
I've been trying to start traveling but it seems that budget and parents' permission and tight schedule always stop me. It's kinda stressing me out.

danau toba

Looking at the pictures of exquisite Indonesia has always been breath taking. I want to see the scenery with my own eyes, I want to explore every inch of the city, I want to taste thousands of different culinary, I want to enjoy the cultural diversity in every city.

sate bali

It is some kind of dilemma, tho, to choose Europe and Indonesia. But now I'm pretty sure to choose Indonesia. I'll save each cent of my money to discover every inch of the incredible Indonesia. I hope I am chosen in this ACI program.

lembeh strait

Well if I'm chosen, I'll go eventhough I have to postpone a semester of my study. Wish me luck!!

ngarai sianok

Friday, April 15, 2011

call me arrogant
call me freak
call me creepy
call me weirdo

i am what i am
i just don't wanna be the way most people are
i am different am unique

and you just haven't understood it yet