Semester ini, apabila semua berjalan lancar dan dosen dan
Tuhan mengehendaki, adalah semester terakhir saya menjalani fase kehidupan
sebagai mahasiswa di Desain Produk Itenas. Sungguh fase yang sangat
menakjubkan. Apabila saya seringkali dinasihati untuk memasrahkan
langkah-langkah hidup kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, inilah salah satu
tuntunannya yang luar biasa. Langkah yang di luar nalar saya bisa masuk ke
institusi ini, jauh dari rencana awal saya namun membentuk saya sedemikian rupa
hingga menjadi seperti sekarang ini. Bentuk yang dengan segala kelebihan dan
kekurangannya sangat saya syukuri dan tanpa penyesalan sedikitpun.
Mimpi awal saya adalah menjadi pakar sekaligus aktivis
sosial dan lingkungan. Saya pun berniat mengambil bidang Urban Studies di Amerika
dengan Oom yang sudah bersedia membantu dan membiayai. Rencana pun berubah
dengan adanya krisis ekonomi sejak tahun 2008. Saya pun mengubah haluan untuk
mengikuti jejak kakak saya yang sudah lulus dari Industrial Design di Academy
of Art. Saya mengikuti bimbel di Bandung selama 3 bulan terakhir masa SMA untuk
mempersiapkan diri mengikuti USM ITB. Di saat teman-teman saya menghabiskan
masa-masa terakhir SMA mereka dengan mengumpulkan sebanyak mungkin memori dan
kenangan, saya harus mengorbankannya dengan bolak-balik Bandung-Jakarta tiap
akhir pekan untuk bimbel. Saat-saat senggang di sekolah pun saya habiskan
dengan latihan menggambar dan mengesampingkan waktu bermain saya. Semua demi
tujuan saya untuk masuk ITB. Mungkin ini sudah menjadi obsesif.
Namun, apa dikata, Tuhan membimbing saya untuk masuk ke
Itenas. Saya sempat frustrasi selama beberapa waktu. Seakan mengecewakan semua
orang yang sudah mendukung dan berkorban demi saya. Tapi, pasrahlah saya
menjalani rencana Tuhan yang lain. Tanpa penyesalan saya masuk dan terjun ke
Desain Produk Itenas. Bahkan saya berambisi untuk membuktikan bahwa tidak ada
bedanya kuliah di institut oren atau gajah sekalipun. Membuktikan
keraguan-keraguan orang-orang di sekitar saya.
Tapi, sungguh, pengalaman yang jauh lebih indah dari
masa-masa SMA. Saya bahkan sempat mengalami culture
shock saat awal-awal masuk ke Gedung Satu ini. Gaya yang ‘ganjil’, rokok
dimana-mana, bahasa yang asing, beda etnis, beda agama, beda kebiasaan, norma,
etika. Belum lagi kegiatan-kegiatan yang sangat alien menurut saya. Ditambah
kuliah yang benar-benar asing dari bidang-bidang mainstream. Ambisi tidak boleh mati, saya pun memutuskan untuk
benar-benar terjun ke dalam kolam ini.
Perjalanan yang menakjubkan adalah perjalanan yang penuh
haling-rintang dan senyum lepas yang bisa didapatkan saat mencapai tujuan
akhir. Lima setengah tahun di gedung ini sudah menjadi perjalanan yang penuh
dengan itu semua. Dari tetap melek tiga hari non-stop, badan tidak tersentuh
air dan sabun lima hari berturut-turut, tidur nyenyak di atas lantai bersama
bambu dan rotan, frustrasi meluap menjadi tangis, puas sampai tidak merasakan
apa-apa, lega selega-leganya, konflik dengan teman-teman, acara-acara dari yang
sukses sampai goreng-garing, muak, kangen, sayang, cinta, benci, entah
perasaan-perasaan apa lagi yang ada selama ini berkolase menjadi satu nirmana
dimensi keempat dan kelima tiada tara.
Dengan tulisan ini dan beberapa tulisan ke depan yang akan saya update setiap minggunya, saya ingin membagikan kepada teman-teman dan dosen-dosen dan penghuni gedung lainnya perasaan dan pikiran saya selama ini, dari yang positif kali positif sampai negatif tambah negatif. Maafkan saya apabila tulisan panjang bertele-tele saya menjadi membosankan, menyinggung, atau membuat suasana tidak enak. Saya hanya ingin membagikan supaya gedung yang kini sudah dihuni tiga keluarga menjadi lebih baik lagi, terutama untuk adik-adik yang baru memulai perjalanannya di gedung tertua di kampus kita dan dosen-dosen yang sudah tidak terhitung jasanya membangun gedung ini sedemikian rupa selama lebih dari dua puluh tahun. Terlepas dari setuju atau tidaknya para pembaca dengan tulisan saya, semoga itu bisa menjadi dinamika yang membuat roda gedung ini tetap berputar. Tulisan ini juga bukan untuk membusungkan dada, karena saya pun jauh di bawah teman-teman, bahkan adik-adik tahun pertama sekalipun. Tapi, lagi, tulisan saya hanya untuk berbagi.
Dengan tulisan ini dan beberapa tulisan ke depan yang akan saya update setiap minggunya, saya ingin membagikan kepada teman-teman dan dosen-dosen dan penghuni gedung lainnya perasaan dan pikiran saya selama ini, dari yang positif kali positif sampai negatif tambah negatif. Maafkan saya apabila tulisan panjang bertele-tele saya menjadi membosankan, menyinggung, atau membuat suasana tidak enak. Saya hanya ingin membagikan supaya gedung yang kini sudah dihuni tiga keluarga menjadi lebih baik lagi, terutama untuk adik-adik yang baru memulai perjalanannya di gedung tertua di kampus kita dan dosen-dosen yang sudah tidak terhitung jasanya membangun gedung ini sedemikian rupa selama lebih dari dua puluh tahun. Terlepas dari setuju atau tidaknya para pembaca dengan tulisan saya, semoga itu bisa menjadi dinamika yang membuat roda gedung ini tetap berputar. Tulisan ini juga bukan untuk membusungkan dada, karena saya pun jauh di bawah teman-teman, bahkan adik-adik tahun pertama sekalipun. Tapi, lagi, tulisan saya hanya untuk berbagi.

No comments:
Post a Comment