like the flowing river

be like the flowing river.
silent in the night.
be not afraid of the dark.
if there are stars in the sky,
reflect them back.
if there are clouds in the sky,
remember, clouds, like the river, are water.
so, gladly reflect them too,
in your own tranquil depths.

~manuel bandeira

Friday, July 31, 2015

there, the journey started



Semester ini, apabila semua berjalan lancar dan dosen dan Tuhan mengehendaki, adalah semester terakhir saya menjalani fase kehidupan sebagai mahasiswa di Desain Produk Itenas. Sungguh fase yang sangat menakjubkan. Apabila saya seringkali dinasihati untuk memasrahkan langkah-langkah hidup kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, inilah salah satu tuntunannya yang luar biasa. Langkah yang di luar nalar saya bisa masuk ke institusi ini, jauh dari rencana awal saya namun membentuk saya sedemikian rupa hingga menjadi seperti sekarang ini. Bentuk yang dengan segala kelebihan dan kekurangannya sangat saya syukuri dan tanpa penyesalan sedikitpun.

Mimpi awal saya adalah menjadi pakar sekaligus aktivis sosial dan lingkungan. Saya pun berniat mengambil bidang Urban Studies di Amerika dengan Oom yang sudah bersedia membantu dan membiayai. Rencana pun berubah dengan adanya krisis ekonomi sejak tahun 2008. Saya pun mengubah haluan untuk mengikuti jejak kakak saya yang sudah lulus dari Industrial Design di Academy of Art. Saya mengikuti bimbel di Bandung selama 3 bulan terakhir masa SMA untuk mempersiapkan diri mengikuti USM ITB. Di saat teman-teman saya menghabiskan masa-masa terakhir SMA mereka dengan mengumpulkan sebanyak mungkin memori dan kenangan, saya harus mengorbankannya dengan bolak-balik Bandung-Jakarta tiap akhir pekan untuk bimbel. Saat-saat senggang di sekolah pun saya habiskan dengan latihan menggambar dan mengesampingkan waktu bermain saya. Semua demi tujuan saya untuk masuk ITB. Mungkin ini sudah menjadi obsesif.
Namun, apa dikata, Tuhan membimbing saya untuk masuk ke Itenas. Saya sempat frustrasi selama beberapa waktu. Seakan mengecewakan semua orang yang sudah mendukung dan berkorban demi saya. Tapi, pasrahlah saya menjalani rencana Tuhan yang lain. Tanpa penyesalan saya masuk dan terjun ke Desain Produk Itenas. Bahkan saya berambisi untuk membuktikan bahwa tidak ada bedanya kuliah di institut oren atau gajah sekalipun. Membuktikan keraguan-keraguan orang-orang di sekitar saya.

Tapi, sungguh, pengalaman yang jauh lebih indah dari masa-masa SMA. Saya bahkan sempat mengalami culture shock saat awal-awal masuk ke Gedung Satu ini. Gaya yang ‘ganjil’, rokok dimana-mana, bahasa yang asing, beda etnis, beda agama, beda kebiasaan, norma, etika. Belum lagi kegiatan-kegiatan yang sangat alien menurut saya. Ditambah kuliah yang benar-benar asing dari bidang-bidang mainstream. Ambisi tidak boleh mati, saya pun memutuskan untuk benar-benar terjun ke dalam kolam ini. 

Perjalanan yang menakjubkan adalah perjalanan yang penuh haling-rintang dan senyum lepas yang bisa didapatkan saat mencapai tujuan akhir. Lima setengah tahun di gedung ini sudah menjadi perjalanan yang penuh dengan itu semua. Dari tetap melek tiga hari non-stop, badan tidak tersentuh air dan sabun lima hari berturut-turut, tidur nyenyak di atas lantai bersama bambu dan rotan, frustrasi meluap menjadi tangis, puas sampai tidak merasakan apa-apa, lega selega-leganya, konflik dengan teman-teman, acara-acara dari yang sukses sampai goreng-garing, muak, kangen, sayang, cinta, benci, entah perasaan-perasaan apa lagi yang ada selama ini berkolase menjadi satu nirmana dimensi keempat dan kelima tiada tara.

Dengan tulisan ini  dan beberapa tulisan ke depan yang akan saya update setiap minggunya, saya ingin membagikan kepada teman-teman dan dosen-dosen dan penghuni gedung lainnya perasaan dan pikiran saya selama ini, dari yang positif kali positif sampai negatif tambah negatif. Maafkan saya apabila tulisan panjang bertele-tele saya menjadi membosankan, menyinggung, atau membuat suasana tidak enak. Saya hanya ingin membagikan supaya gedung yang kini sudah dihuni tiga keluarga menjadi lebih baik lagi, terutama untuk adik-adik yang baru memulai perjalanannya di gedung tertua di kampus kita dan dosen-dosen yang sudah tidak terhitung jasanya membangun gedung ini sedemikian rupa selama lebih dari dua puluh tahun. Terlepas dari setuju atau tidaknya para pembaca dengan tulisan saya, semoga itu bisa menjadi dinamika yang membuat roda gedung ini tetap berputar. Tulisan ini juga bukan untuk membusungkan dada, karena saya pun jauh di bawah teman-teman, bahkan adik-adik tahun pertama sekalipun. Tapi, lagi, tulisan saya hanya untuk berbagi.

No comments:

Post a Comment