Tiga cilik bertemu di tengah padang di bukit. Senyum merekah
di wajahnya, melihat kedua temannya yang lain juga membawa mainannya yang sama.
Selembar kertas plastis tipis yang licin dan translusen. Diikat pada dua bilah
bambu tipis keempat penjuru mata angin. Diikuti dua helai ekor panjang
menjuntai. Mereka bilang ini adalah mainan para dewa. Mainan yang berasal dari
langit, diajarkan oleh dewa angin saat Paduka datang mengunjungi bumi. Dengan
alat sederhana ini, abah bilang, kita mendekatkan jiwa kita kepada Paduka
Langit melalui benangnya yang dengan erat diikat dalam genggaman dekat jantung
kita. Getaran debar hati menggetarkan benang dan disampaikan melalui lembaran
layang yang melayang dekat surga. Ketiga cilik itu saling menatap, mengangguk,
meyakinkan diri mereka. Layang ini akan membawa ketiga jiwa mereka kepada Sang
Paduka. Mungkin dengan melayang mereka dapat menemui Paduka.
Satu cilik menggenggam erat-erat ujung untaian benang tipis
itu, melilitkan ke dalam genggaman kecilnya, lalu mengulur gulungan benang yang
sudah mereka ikat ujung yang satu dengan yang lain sampai berpuluh-puluh meter
selama berminggu-minggu. Satu cilik lainnya mencengkram kedua sisi layang
berbelah ketupat itu. Mencari-cari arah nafas Sang Paduka bertiup. Apabila
tepat dengan arah nafas Paduka, layang akan diangkat olehnya ke atas surga,
kata abah. Agak jauh anak itu berjalan mencari-cari hembusan angin. Ketika
diketemukannya , teriaklah ia kepada temannya di ujung yang lain, Paduka
bernafas! Satuu! Duaa! Tigaaa!! Ia melepas cengkramannya pada sisi bingkai
layang dan temannya dengan cekatan menghentak benang yang menegang dengan kuat.
Layang berputar-putar. Sedikit melayang tetapi lalu menukik jatuh lagi,
kemudian mengangkat lagi, tapi jatuh lagi. Enggan untuk mengangkat dirinya. Tapi
sang anak pun juga enggan; enggan untuk menyerah. Ia sudah bertekad, hari ini
ia dan teman-temannya akan pergi menemui Paduka Langit. Ia lebih kuat lagi
menghentak tarikannya pada untaian benang tipis yang kini menjadi sangat
tegang. Kedua yang lain tidak diam saja menyaksikan temannya berjuang. Mereka
menyanyikan mantra yang sudah diajarkan oleh abah supaya Paduka Langit membantu
jiwanya terangkat ke langit.
menyusuri langit sore
menyelami gumpalan lautan awan
kita bersama terangkat udara
melarut dalam cahaya surya
menyelami gumpalan lautan awan
kita bersama terangkat udara
melarut dalam cahaya surya
ada
apa di atas sana?
siapa di atas sana?
siapa di atas sana?
bukalah awanmu
belahlah langitmu
hembuskan nafasmu
aku ingin bertemu
Paduka Langit
belahlah langitmu
hembuskan nafasmu
aku ingin bertemu
Paduka Langit
Hembusan udara mengalir lebih deras. Bak pintu air dibuka
lebar-lebar, padang rumput tempat ketiga cilik bermain penuh dengan nafas Sang
Paduka. Mereka semakin bersemangat menyanyikan mantra. Dan lepaslah tarikan
bumi pada layang. Layang menjadi bebas, melayang di udara menikmati aliran
angin. Kedua layang lainnya pun dilepas. Mengikuti layang pertama, berlari mengerjar
Sang Paduka.
Selembar kertas itu terbang di udara, terikat dengan untaian
benang yang terulur sampai puluhan meter. Hampir tidak lagi terlihat oleh mata.
Tapi mereka bisa merasakan getarannya di tangan mereka. Mereka bisa merasakan
hati mereka berdegup. Getarnya semakin kuat dan kuat. Menyadari itu, mereka
menempelkan kepalan tangan mereka ke dada. Mencurahkan seluruh hati mereka,
menyalurkan jiwa mereka ke dalam benang. Menghidupkan layang-layang yang mati.
Mereka bisa merasakan ketiga layang itu saling berkejar-kejaran di balik awan.
Bernyanyilah mereka dengan kuat-kuat. Menghantarkan mantra itu keujung benang
di atas sana. Berharap Paduka mendengarkan gelombang getaran itu. Dengarlah
degup hati kami Paduka!
Sudah tiga jam ketiga layang-layang itu berlari-larian di
udara. Belum sejumput lelah terasa di diri mereka. Tawa mereka tidak ada
habisnya. Kaki mereka menapak bumi. Jiwa mereka terbang bebas di atas awan.
Langit mulai kekuning-kuningan. Matahari mulai menuruni puncak gunung. Sebentar
lagi ia akan pulang, digantikan oleh rembulan yang lebih feminin, dingin, tidak
menyilaukan, dan dapat puas dipandang. Rumput membuka pori-porinya.
Mengeluarkan molekul-molekul kimia yang masuk ke dalam indera penciuman.
Mengirimkan pesan, akulah hujan, akulah tanah, akulah matahari, ketiga unsur
semesta yang bertumbuh menjadi milyaran helai berwarna hijau. Terik surya
berubah menjadi kehangatan, cahaya kuning kemerah-merahan lembut, menerpa
permukaan-permukaan wajah, pipi, leher, tangan sembari semilir angin melintasi
wajah menyibakkan rambut-rambut mereka. Ketiga anak yang masih kecil itu kini
tumbuh menjadi panjang-panjang dalam bayangan mereka, mengikuti gerak-gerik
kemana pun mereka berlari.
Matahari menyusuri lembah semakin dalam. Merah semakin
mendominasi biru yang kewalahan mengatasi kuatnya merah; bercampur dalam radian
violet menjadi jingga. Kilau-kilau matahari menembus tebalnya awan yang
membiaskan cahaya-cahayanya menjadi warna kuning kemilau di sekitar pinggir
awan – sementara perut awan yang buncit semakin kontras dengan warna gelapnya.
Hembusan nafas Paduka kini semakin lembut. Lembut mengangkat ketiga anak cilik
itu di udara. Menyusuri langit sore. Melayang dengan bebas, berputar-putar,
menukik, melesat. Kecil di atas sana menyelami gumpalan-gumpalan awan. Larut
dalam cahaya surya sore.
Dan matahari pun turun ke lerung lembah yang terdalam.
Larut. Dalam Abathi . . .


No comments:
Post a Comment