like the flowing river

be like the flowing river.
silent in the night.
be not afraid of the dark.
if there are stars in the sky,
reflect them back.
if there are clouds in the sky,
remember, clouds, like the river, are water.
so, gladly reflect them too,
in your own tranquil depths.

~manuel bandeira

Monday, August 3, 2015

Abathi



Tiga cilik bertemu di tengah padang di bukit. Senyum merekah di wajahnya, melihat kedua temannya yang lain juga membawa mainannya yang sama. Selembar kertas plastis tipis yang licin dan translusen. Diikat pada dua bilah bambu tipis keempat penjuru mata angin. Diikuti dua helai ekor panjang menjuntai. Mereka bilang ini adalah mainan para dewa. Mainan yang berasal dari langit, diajarkan oleh dewa angin saat Paduka datang mengunjungi bumi. Dengan alat sederhana ini, abah bilang, kita mendekatkan jiwa kita kepada Paduka Langit melalui benangnya yang dengan erat diikat dalam genggaman dekat jantung kita. Getaran debar hati menggetarkan benang dan disampaikan melalui lembaran layang yang melayang dekat surga. Ketiga cilik itu saling menatap, mengangguk, meyakinkan diri mereka. Layang ini akan membawa ketiga jiwa mereka kepada Sang Paduka. Mungkin dengan melayang mereka dapat menemui Paduka. 


Satu cilik menggenggam erat-erat ujung untaian benang tipis itu, melilitkan ke dalam genggaman kecilnya, lalu mengulur gulungan benang yang sudah mereka ikat ujung yang satu dengan yang lain sampai berpuluh-puluh meter selama berminggu-minggu. Satu cilik lainnya mencengkram kedua sisi layang berbelah ketupat itu. Mencari-cari arah nafas Sang Paduka bertiup. Apabila tepat dengan arah nafas Paduka, layang akan diangkat olehnya ke atas surga, kata abah. Agak jauh anak itu berjalan mencari-cari hembusan angin. Ketika diketemukannya , teriaklah ia kepada temannya di ujung yang lain, Paduka bernafas! Satuu! Duaa! Tigaaa!! Ia melepas cengkramannya pada sisi bingkai layang dan temannya dengan cekatan menghentak benang yang menegang dengan kuat. Layang berputar-putar. Sedikit melayang tetapi lalu menukik jatuh lagi, kemudian mengangkat lagi, tapi jatuh lagi. Enggan untuk mengangkat dirinya. Tapi sang anak pun juga enggan; enggan untuk menyerah. Ia sudah bertekad, hari ini ia dan teman-temannya akan pergi menemui Paduka Langit. Ia lebih kuat lagi menghentak tarikannya pada untaian benang tipis yang kini menjadi sangat tegang. Kedua yang lain tidak diam saja menyaksikan temannya berjuang. Mereka menyanyikan mantra yang sudah diajarkan oleh abah supaya Paduka Langit membantu jiwanya terangkat ke langit.



menyusuri langit sore
menyelami gumpalan lautan awan
kita bersama terangkat udara
melarut dalam cahaya surya


                                                ada apa di atas sana?
                                                siapa di atas sana?


bukalah awanmu
belahlah langitmu
hembuskan nafasmu
aku ingin bertemu
Paduka Langit


Hembusan udara mengalir lebih deras. Bak pintu air dibuka lebar-lebar, padang rumput tempat ketiga cilik bermain penuh dengan nafas Sang Paduka. Mereka semakin bersemangat menyanyikan mantra. Dan lepaslah tarikan bumi pada layang. Layang menjadi bebas, melayang di udara menikmati aliran angin. Kedua layang lainnya pun dilepas. Mengikuti layang pertama, berlari mengerjar Sang Paduka. 


Selembar kertas itu terbang di udara, terikat dengan untaian benang yang terulur sampai puluhan meter. Hampir tidak lagi terlihat oleh mata. Tapi mereka bisa merasakan getarannya di tangan mereka. Mereka bisa merasakan hati mereka berdegup. Getarnya semakin kuat dan kuat. Menyadari itu, mereka menempelkan kepalan tangan mereka ke dada. Mencurahkan seluruh hati mereka, menyalurkan jiwa mereka ke dalam benang. Menghidupkan layang-layang yang mati. Mereka bisa merasakan ketiga layang itu saling berkejar-kejaran di balik awan. Bernyanyilah mereka dengan kuat-kuat. Menghantarkan mantra itu keujung benang di atas sana. Berharap Paduka mendengarkan gelombang getaran itu. Dengarlah degup hati kami Paduka!


Sudah tiga jam ketiga layang-layang itu berlari-larian di udara. Belum sejumput lelah terasa di diri mereka. Tawa mereka tidak ada habisnya. Kaki mereka menapak bumi. Jiwa mereka terbang bebas di atas awan. Langit mulai kekuning-kuningan. Matahari mulai menuruni puncak gunung. Sebentar lagi ia akan pulang, digantikan oleh rembulan yang lebih feminin, dingin, tidak menyilaukan, dan dapat puas dipandang. Rumput membuka pori-porinya. Mengeluarkan molekul-molekul kimia yang masuk ke dalam indera penciuman. Mengirimkan pesan, akulah hujan, akulah tanah, akulah matahari, ketiga unsur semesta yang bertumbuh menjadi milyaran helai berwarna hijau. Terik surya berubah menjadi kehangatan, cahaya kuning kemerah-merahan lembut, menerpa permukaan-permukaan wajah, pipi, leher, tangan sembari semilir angin melintasi wajah menyibakkan rambut-rambut mereka. Ketiga anak yang masih kecil itu kini tumbuh menjadi panjang-panjang dalam bayangan mereka, mengikuti gerak-gerik kemana pun mereka berlari. 


Matahari menyusuri lembah semakin dalam. Merah semakin mendominasi biru yang kewalahan mengatasi kuatnya merah; bercampur dalam radian violet menjadi jingga. Kilau-kilau matahari menembus tebalnya awan yang membiaskan cahaya-cahayanya menjadi warna kuning kemilau di sekitar pinggir awan – sementara perut awan yang buncit semakin kontras dengan warna gelapnya. Hembusan nafas Paduka kini semakin lembut. Lembut mengangkat ketiga anak cilik itu di udara. Menyusuri langit sore. Melayang dengan bebas, berputar-putar, menukik, melesat. Kecil di atas sana menyelami gumpalan-gumpalan awan. Larut dalam cahaya surya sore.

Dan matahari pun turun ke lerung lembah yang terdalam. 


Larut. Dalam Abathi . . .

No comments:

Post a Comment