like the flowing river

be like the flowing river.
silent in the night.
be not afraid of the dark.
if there are stars in the sky,
reflect them back.
if there are clouds in the sky,
remember, clouds, like the river, are water.
so, gladly reflect them too,
in your own tranquil depths.

~manuel bandeira

Thursday, August 13, 2015

indo orgasm



Ini sudah tiga hari sejak sebuah acara besar organisasi yang saya ikuti, Rotaract, mengadakan pertemuan dengan klub dari 15 negara lain selain Indonesia. Asia Pacific Regional Rotaract Conference sudah keduabelas kalinya diadakan. Tahun ini, negara saya dengan bangga menjadi tuan rumah yang mengambil lokasi di Yogyakarta, tepatnya Sheraton Mustika Jaya. Selama empat hari dari tanggal 8-11 Agustus kami bertemu, berkenalan, dan berbagi dengan lebih dari 400 orang yang berasal dari Taiwan, Filipina, Tiongkok, Jepang, Malaysia, Singapura, Mongolia, Macau, Thailand, Hongkong, Italia, Korea Selatan, India, Australia, dan bahkan negara kecil Guam di tengah Samudera Pasifik sana datang berkunjung ke Indonesia.



Walaupun agak sulit beradaptasi karena sifat dasar saya yang sering canggung-canggungan dan agak-agak pemalu sejak saya kecil dan masih belum juga hilang sampai sekarang, saya sangat bersyukur mengikuti konferensi ini. Awalnya enggan karena harganya yang mahal, tapi akhirnya dibela-bela juga, mumpung di negeri sendiri daripada di negeri orang lain pasti lebih mahal lagi harganya. Segala perasaan naik turun dari senang, malu, tidak sabar, gregetan, canggung, girang, ketawa, sedih, lucu, bangga, kangen, bosan, capek, kesal, sampai akhir acara yang berujung pada rasa sedih berpisah semua berakumulasi menjadi satu roller coaster dengan lingkaran ganda orgasme Indonesia. Sesuai dengan tanda pagar acara ini: #INDOgasm. 

Banyak kekurangan dari acara ini. Molor, administrasi semrawut, kamar hotel belum siap saat peserta datang, kata sambutan yang selalu lebih lama dari acara utamanya, ritme acara yang kurang sigap. Belum lagi seminar dan workshop-nya yang sangat sebentar dan kurang mengena. Tapi ya sudahlah, seperti adegan seks pun ada saat-saat yang kurang nyamannya. Dan seperti seks juga lebih baik fokus ke yang enaknya supaya tanjakan dari halilintar ini dapat sampai di titiknya yang tertinggi lalu jatuh ke jalur berputar nan orgasmik. 





Dunia terasa menjadi sangat kecil. Bertemu begitu banyak orang dari negara dengan bentuk-bentukan yang sangat beragam di satu tempat. Sekarang berbicara dengan orang Jepang sebentar bicara dengan orang Australia, nanti lagi berblepotan dengan orang Taiwan. Dengan gaya-gaya antar negara yang tidak sama satu dan yang lain, aksen-aksen lucu di kuping kita yang di kuping mereka aksen kita pun aneh, bertukar makanan dan kartu nama. Panas-panasan di pinggir sungai untuk menanam pohon setelah bosan terpanggang oleh ceramah para pejabat gila hormat. Takjub dengan perspektif baru yang saya punya saat ketigakalinya mengunjungi Borobudur, bangga menjelaskannya ke teman dari Taiwan, dan lagi terbakar oleh matahari pukul tiga saat itu, dan masih harus berjalan satu kilometer dari candi megah itu ke dalam bus. Sekali-kalinya ke Prambanan untuk makan malam yang seharusnya mewah dan menyaksikan elegannya sendratari Ramayana dengan latar belakang candinya Roro Jonggrang menggunakan pakaian glamor. Melepaskan lentera-lentera ke atas langit, terbang ke atas Prambanan dengan begitu melankolisnya. Malamnya kami bergoyang tak henti sampai mabuk oleh ritme DJ kita dari Malaysia, Rufus. Takjub dengan tarian teman-teman Jepang yang epic sekaligus absurd,membuat badan tidak bisa menolak hati ingin mengikutinya.  

 Dunia terasa menjadi sangat besar. Melihat begitu banyaknya orang dari negara-negara itu yang begitu hebat. Mereka profesional di usianya yang tidak jauh dari saya. Saya menjadi merasa kecil di depan mereka yang begitu ambisius mengejar mimpi-mimpinya. Mereka begitu fasihnya menjadi tutor workshop saat itu dengan prestasi-prestasinya yang luar biasa. Dan itu masih hanya sehelai rambut dari seluruh rambut lebat di seluruh dunia. Saya pun terbukti tidak terbiasa bergaul dengan orang-orang baru, terlebih orang-orang baru yang bukan orang Indonesia dan orang asing yang tidak fasih berbahasa Inggris. Selama empat hari itu pun saya dibuat bertanya-tanya: mampukah saya bersaing dengan orang-orang lain di bidang saya? Ataukah saya hanya bisa bersaing di Indonesia saja? Ataukah saya tidak mampu menjadi penduduk dunia? Pertanyaan yang akan saya jawab dengan perbuatan saya sejak saat itu ke depan. 

Rotaract-lah yang membuat saya terus terpacu untuk menjadi yang terbaik untuk diri saya sendiri karena masih banyak yang jauh jauh lebih hebat dari saya. Apalah saya dengan prestasi yang tidak ada apa-apanya. Karya adalah satu-satunya ekspresi diri untuk membuktikan diri sendiri.
Sungguh empat hari yang sangat berharga. Hanya dengan empat hari pikiran saya terkesima, sesuai dengan slogan utama konferensi ini: “Blow your mind!”. Well, I am blown away. Susah untuk beranjak dari euforia APRRC kemarin. Biarlah ini yang menjadi cambuk saya untuk terus berlari menerbangkan gelembung-gelembung mimpi saya. 

Terima kasih APRRC Yogyakarta. Sampai jumpa di APRRC 2016 di Kyoto tahun depan!

No comments:

Post a Comment