Ini sudah tiga hari sejak sebuah acara besar organisasi yang
saya ikuti, Rotaract, mengadakan pertemuan dengan klub dari 15 negara lain
selain Indonesia. Asia Pacific Regional
Rotaract Conference sudah keduabelas kalinya diadakan. Tahun ini, negara
saya dengan bangga menjadi tuan rumah yang mengambil lokasi di Yogyakarta,
tepatnya Sheraton Mustika Jaya. Selama empat hari dari tanggal 8-11 Agustus
kami bertemu, berkenalan, dan berbagi dengan lebih dari 400 orang yang berasal
dari Taiwan, Filipina, Tiongkok, Jepang, Malaysia, Singapura, Mongolia, Macau,
Thailand, Hongkong, Italia, Korea Selatan, India, Australia, dan bahkan negara
kecil Guam di tengah Samudera Pasifik sana datang berkunjung ke Indonesia.
Walaupun agak sulit beradaptasi karena sifat dasar saya yang
sering canggung-canggungan dan agak-agak pemalu sejak saya kecil dan masih
belum juga hilang sampai sekarang, saya sangat bersyukur mengikuti konferensi
ini. Awalnya enggan karena harganya yang mahal, tapi akhirnya dibela-bela juga,
mumpung di negeri sendiri daripada di negeri orang lain pasti lebih mahal lagi
harganya. Segala perasaan naik turun dari senang, malu, tidak sabar, gregetan,
canggung, girang, ketawa, sedih, lucu, bangga, kangen, bosan, capek, kesal,
sampai akhir acara yang berujung pada rasa sedih berpisah semua berakumulasi
menjadi satu roller coaster dengan
lingkaran ganda orgasme Indonesia. Sesuai dengan tanda pagar acara ini:
#INDOgasm.
Banyak kekurangan dari acara ini. Molor, administrasi
semrawut, kamar hotel belum siap saat peserta datang, kata sambutan yang selalu
lebih lama dari acara utamanya, ritme acara yang kurang sigap. Belum lagi
seminar dan workshop-nya yang sangat sebentar dan kurang mengena. Tapi ya
sudahlah, seperti adegan seks pun ada saat-saat yang kurang nyamannya. Dan
seperti seks juga lebih baik fokus ke yang enaknya supaya tanjakan dari
halilintar ini dapat sampai di titiknya yang tertinggi lalu jatuh ke jalur
berputar nan orgasmik.
Dunia terasa menjadi sangat kecil. Bertemu begitu banyak
orang dari negara dengan bentuk-bentukan yang sangat beragam di satu tempat.
Sekarang berbicara dengan orang Jepang sebentar bicara dengan orang Australia,
nanti lagi berblepotan dengan orang Taiwan. Dengan gaya-gaya antar negara yang
tidak sama satu dan yang lain, aksen-aksen lucu di kuping kita yang di kuping
mereka aksen kita pun aneh, bertukar makanan dan kartu nama. Panas-panasan di
pinggir sungai untuk menanam pohon setelah bosan terpanggang oleh ceramah para
pejabat gila hormat. Takjub dengan perspektif baru yang saya punya saat
ketigakalinya mengunjungi Borobudur, bangga menjelaskannya ke teman dari
Taiwan, dan lagi terbakar oleh matahari pukul tiga saat itu, dan masih harus
berjalan satu kilometer dari candi megah itu ke dalam bus. Sekali-kalinya ke
Prambanan untuk makan malam yang seharusnya mewah dan menyaksikan elegannya
sendratari Ramayana dengan latar belakang candinya Roro Jonggrang menggunakan
pakaian glamor. Melepaskan lentera-lentera ke atas langit, terbang ke atas
Prambanan dengan begitu melankolisnya. Malamnya kami bergoyang tak henti sampai
mabuk oleh ritme DJ kita dari Malaysia, Rufus. Takjub dengan tarian teman-teman
Jepang yang epic sekaligus absurd,membuat badan tidak bisa menolak
hati ingin mengikutinya.
Dunia terasa menjadi sangat besar. Melihat begitu banyaknya
orang dari negara-negara itu yang begitu hebat. Mereka profesional di usianya
yang tidak jauh dari saya. Saya menjadi merasa kecil di depan mereka yang
begitu ambisius mengejar mimpi-mimpinya. Mereka begitu fasihnya menjadi tutor workshop saat itu dengan
prestasi-prestasinya yang luar biasa. Dan itu masih hanya sehelai rambut dari
seluruh rambut lebat di seluruh dunia. Saya pun terbukti tidak terbiasa bergaul
dengan orang-orang baru, terlebih orang-orang baru yang bukan orang Indonesia dan
orang asing yang tidak fasih berbahasa Inggris. Selama empat hari itu pun saya
dibuat bertanya-tanya: mampukah saya bersaing dengan orang-orang lain di bidang
saya? Ataukah saya hanya bisa bersaing di Indonesia saja? Ataukah saya tidak
mampu menjadi penduduk dunia? Pertanyaan yang akan saya jawab dengan perbuatan
saya sejak saat itu ke depan.
Rotaract-lah yang membuat saya terus terpacu untuk menjadi
yang terbaik untuk diri saya sendiri karena masih banyak yang jauh jauh lebih
hebat dari saya. Apalah saya dengan prestasi yang tidak ada apa-apanya. Karya
adalah satu-satunya ekspresi diri untuk membuktikan diri sendiri.
Sungguh empat hari yang sangat berharga. Hanya dengan empat
hari pikiran saya terkesima, sesuai dengan slogan utama konferensi ini: “Blow your mind!”. Well, I am blown away. Susah untuk beranjak dari euforia APRRC
kemarin. Biarlah ini yang menjadi cambuk saya untuk terus berlari menerbangkan
gelembung-gelembung mimpi saya.
Terima kasih APRRC Yogyakarta. Sampai jumpa di APRRC 2016 di
Kyoto tahun depan!

No comments:
Post a Comment