![]() |
| Photo Credit: Reylia Slaby |
Langit dunia di atas
bebas tak terhingga
mulia tak bernoda
suci para transenden
bebas tak terhingga
mulia tak bernoda
suci para transenden
Bumi tempat semua berpijak
kaki menginjak
hayat membusuk
kotoran menghanyut
kaki menginjak
hayat membusuk
kotoran menghanyut
Langit bumi terpisah horison maya
langit bumi tersatukan horison maya
tak tahu mana ujung mana tepi
tapi langit bumi bersatu satu kala
ketika dewa dewi di langit menumpahkan darahnya
mencintai dan menangisi bumi akan kekotor-profanannya
darah suci membelah batu dan tanah
mendobrak keangkuhan para kepala keras di bumi
menyentuh dengan lembut dedaunan yang girang menyambut kehidpan langit
menghanyutkan dusta para bangkai busuk
membendung hawa surya pembakar bumi
langit bumi tersatukan horison maya
tak tahu mana ujung mana tepi
tapi langit bumi bersatu satu kala
ketika dewa dewi di langit menumpahkan darahnya
mencintai dan menangisi bumi akan kekotor-profanannya
darah suci membelah batu dan tanah
mendobrak keangkuhan para kepala keras di bumi
menyentuh dengan lembut dedaunan yang girang menyambut kehidpan langit
menghanyutkan dusta para bangkai busuk
membendung hawa surya pembakar bumi
Tetes darah pertama bertemu darah batu
menggumpalkan dalam butirannya
dipecahkan ke dalam udara
memancarkan kesucian bersatunya darah bumi dan darah langit
aroma asmara kerinduan bumi pada langit
menggumpalkan dalam butirannya
dipecahkan ke dalam udara
memancarkan kesucian bersatunya darah bumi dan darah langit
aroma asmara kerinduan bumi pada langit
Angin dengan riang merayakan
membawa berita ke penjuru bumi
dentuman keras genderang sorak sorai
berdansa bersama para daun
bersiul-siul tinggi riuh
menerpa wajah yang kewalahan membendung senyum tak tertahankan
menyambut romantisme kebiruan yang akan datang
membawa berita ke penjuru bumi
dentuman keras genderang sorak sorai
berdansa bersama para daun
bersiul-siul tinggi riuh
menerpa wajah yang kewalahan membendung senyum tak tertahankan
menyambut romantisme kebiruan yang akan datang
Bersatunya darah langit dan bumi
Asmara paradoks dua dunia
Asmara paradoks dua dunia

No comments:
Post a Comment