like the flowing river

be like the flowing river.
silent in the night.
be not afraid of the dark.
if there are stars in the sky,
reflect them back.
if there are clouds in the sky,
remember, clouds, like the river, are water.
so, gladly reflect them too,
in your own tranquil depths.

~manuel bandeira

Saturday, November 14, 2015

Bhuta dan Bunga




Langit tidak henti-hentinya bertarung
malam merebut pagi
ketika surya kembali menelan luna
merah panas membakar belum lagi habis
dingin merenggutmu


Bhuta tidak akan mati
pun surya dan bulan tak akan gencatan berebut langit
Bhuta tidak akan membalik tubuhnya
pun buah tidak akan susut menjadi biji
dan biji tidak akan memandul kembali menjadi bunga perawan


Bhuta itu melilitmu demikian rupa
dibawa melesat oleh panah yang entah dimana akan menancap
tak mungkin kau melepasnya
menolak pun tak daya
menerima hanya caranya


Mau di puncak Everest,
mau di dasar palung,
di jantung hutan Kalimantan,
di tengah Sahara,
di bawah es Antartika pun,


Seperti bunga-bunga di pinggir jalan
yang tidak tahu malu menebar pesonanya
tidak peduli tidak ada yang memberikan matanya
persetan dunia berlalu sepersekian detik saja di depan matanya
api matahari pun menjadi dingin dengan tekadnya


bermekarlah kamu sayang
tebarlah keindahanmu
berikan semerbakmu kepada dunia


Bukan supaya semua mata memalingkan dirinya kepadamu
tapi agar jalan menjadi gersang tanpamu
manusia tidak mengenal kata indah tanpamu
dunia menjadi busuk tanpamu


Karena manusia tidak pernah sadar
ia akan mati tersedak tanpa udara
 
Kamu harus mengembang dan mekar 
  karena begita berharganya kamu sayang

Tuesday, November 10, 2015

Desain saja harus sesuai pasar, apalagi cantik.



Desain saja harus sesuai pasar, apalagi cantik.

Seperti apa sih cantik? Seperti apa sih pasar? 

Cantik itu kulit putih, muka oval dengan dagu agak lancip, pipi tidak terlalu tembem tapi ada lekukannya saat bibir tersenyum, bibir ramping lentik tapi berisi, mata tidak sipit, besar tapi seperti kucing, rambut lurus bergelombang saat angin berhembus seperti iklan-iklan shampoo itu. Itu baru wajah, belum lagi tubuh yang harus montok tapi perut kencang tidak berlipat tidak menonjol saat dibalut pakaian ketat. Dada besar tapi kencang. Lengan ramping kencang. Paha montok tapi tidak terlalu besar, mulus tidak bertato petir – seperti model-model yang banyak di majalah itu lah. Betis kencang meliuk tidak seperti kurva parabola azimuth. 

Banyak sekali ‘tapi’-nya. Yah, namanya juga pasar. Yang ini ingin begini, itu maunya begitu. Semuanya tarik ini tarik itu. Wajahmu ditarik ke depan, rambutmu dijambak ke segala arah, tangan kirimu dipelintir, tangan kanan mu di lipat, perutmu dibalut sekencang-kencangnya dengan korset, dada kirimu diremas, dada kananmu dihisap, pahamu dibuka selebar-lebarnya, kaki kananmu diangkat ke atas, kaki kirimu diputar. 

Diperkosa.

 Oleh pejantan. Si penjahat gender yang sudah entah berapa abad ingin mendominasi betina. Dengan selangkangannya mengacung mengancam lawan kelaminnya. Merasa berhak memelihara mengandangi. Setiap hari dimandikan, dielus, diberi makan, supaya sehat dan bisa dipamerkan lalu ditandingkan dengan kepunyaan jantan-jantan yang lain. Digemukkan supaya suatu saat bisa disembelih beramai-ramai saat jamuan. Kalau si betina menjadi primadona, dihukumlah dia karena dia menarik hati pesaing-pesaingnya. Dikurunglah dia karena dia salah telah membuat selangkangan jantan lain mengacung. Ditutupi kandangnya serapat-rapatnya supaya tidak ada yang bisa melihat dia kecuali si pemeliharanya. 

Parahnya lagi si sesama betina lainnya ikut memperkosa. Apalah engkau? Lesbian? Memerkosa sesama jenismu? Atau dendamkah? Posesif? Psikopat? Kesenangan belaka? Mungkin engkau telah terlalu lama dikuasai dan dimanipulasi sampai di otakmu kehilangan ingatan bahwa engkau dulu adalah makhluk bebas yang tidak dikandangkan dan disuapi oleh penjahat selangkangan itu. Dibentuklah kau agar sesuai dengan maunya selangkangan mereka selama ratusan generasi. Mereka pun sudah seperti anak-anak yang selalu berubah-ubah maunya, tapi tetap engkau ikuti. 

Tapi lebih jahat si pemanipulator pengadudomba kalian si jantan dan si betina. Sudah memang pada dasarnya si jantan penjahat selangkangan, si betina penurut dan penakut, si pengadudomba ini memanipulasi pikiran si betina supaya si betina semakin memoles dirinya agar si jantan semakin tergila terhadap si betina dan semakin memaksa mengeksploitasi si betina supaya semakin keras lagi mengumbar dirinya sehingga jantan-jantan lain semakin tergoda dan mengakibatkan si betina semakin berat dihukum. Diciptakanlah simpul yang tidak ada kesimpulan dan tidak terbongkar-bongkar ini supaya si betina semakin mencari si pengadudomba dan si jantan semakin memuji si pemanipulator. 

Jika suatu hari nanti – suatu hari yang entah kapan hari itu – si betina tiba-tiba tersadar asal muasalnya dan menolak menurut si pemanipulator dan tidak takut dengan selangkangan pria, bayangkan apa jadinya si pemanipulator dan penjantan. Berapa banyak yang depresi karena kehilangan hartanya yang paling sering ia banggakan, umbar, dan nikmati? Berapa banyak yang kehilangan untung karena si betina tidak lagi mencari si pemanipulator itu?

Kau tidak perlu lagi takut akan selangkangannya, tubuhmu tidak diperkosa, tidak ada lagi yang mencuci otakmu, tidak peduli apa kata pemerkosa-pemerkosa dirimu engkau tetap menawan karena tanpa apapun juga kau memang sudah menawan. Tidak usahlah memaksa dirimu supaya memuaskan si jantan-jantan itu, kau sudah cantik. Karena cantik bukan dari pasar datangnya, tetapi dari dalam. Seperti desain yang baik adalah desain yang membentuk pasar bukan pasar yang membentuk desain, cantik yang paling memukau adalah cantik yang persetan dengan teriakan selangkangan-selangkangan itu.

Friday, October 30, 2015

n i ssssssa



Malam hiruk. Gelap pikuk. Instrumen-instrumen musik ditata, disiapkan, menyiapkan sebuah permainan melodi dan nada yang terangkai dan mengharmoni. Kuning cahaya memberikan kemilau seadanya pada wujud-wujud di sana. Hari itu, malam itu, didedikasikan untuk sahabat saudara sebuah jurusan yang menempati gedung paling tua, sedang bertarung melawan sel-sel ganas yang mengamuk di tubuhnya. Materi seadanya dikumpulkan, berharap seadanya itu cukup untuk kami ada di sisinya melawan amukan tubuhnya sendiri. 

Ini sebuah momen humanis. Momen kekeluargaan. Momen makhluk sosial bersosial. Momen manusia bermanusia. Momen sang eksisten mengeksistensikan dirinya.
Sang Jantan berlalulalang. Beradu gaya, beradu eksistensi. Para perempuan berjalan seakan itu panggung. Memoles propertinya, mempromosikan propertinya, begitu istilah Nukila Amal. Diam menjadi terbelakang. Berada di luar lingkaran adalah memalukan.
Aku duduk di belakang. Di luar lingkaran. Observasi terhadap sebuah momen krusial manusia itu. Dua temanku bersama saya, ikut termangu melihat kemanusiaan yang terjadi.

Hingga suatu detik, bunga rumput di antara bunga-bunga mawar bunga-bunga matahari bunga-bunga lili muncul dari permukaan. Datang entah dari mana. Tidak memoles tidak membusung. Duduk di luar lingkaran, mungkin enggan berada di antara bunga-bunga narisistis itu, ikut mengamati.
Sedari dulu aku selalu tertarik terhadap yang biasa, tidak menonjol, tidak membusung, tidak mencolok, tidak disorot sekian lusin lampu di tengah panggung disoraki penonton. Yang biasa itu adalah yang tidak biasa. Menjadi tinggi oleh kerendahannya. Dituju mata seperti nada biru yang diam di antara nada-nada kuning dan merah yang mencolok. Diam, tetapi lantang. Indah. Sahaja. Tinggi, tidak meninggi dan meninggikan. Dengan alami seperti bambu menyejukkan merunduk bergemulai tertiup angin eksotis, bukan cemara yang tinggi besar dingin angkuh tajam. 

Sering kali di dalam hidup satu detik, hanya satu detik saja, mengubah segalanya. Satu kata yang keluar dalam satu detik memutus keluarga, persahabatan, hubungan. Satu tinju dalam satu detik menghacurkan sekota. Satu tatap dalam satu detik memecut orang-orang. Satu pikiran dalam satu detik mengubah laku dan aksi. Satu senyum dalam satu detik mewarnai hidup monokrom. Satu terima kasih dalam satu detik mengangkat hati hancur. Satu kasih sayang, hanya dalam satu detik, mengubah takdir hidup.

Dan satu detik itulah pikiranku mengubah tekadku. Di dalam satu detik itu tekadku mengubah laku dan aksiku. Di dalam satu detik itu, takdirku ditentukan. Ketidakpercayaan diri tertimbun. Keyakinan muncul ke permukaan. Kuncup-kuncup muncul dari dalam tanah yang menggulita. Mencari cahaya, mengikuti cahaya, tumbuh dan semakin besar – hanya dalam satu detik. Alam bawah sadar menguasai. Jangan ragu, katanya. Ini bukan nafsu seorang pria yang hanya melihat wanita sebagai benda yang dapat dinikmati. Ini bukan pandangan pertama yang dikuasai hormon testoteron purba yang hanya mengandalkan selangkangan. Ini adalah rasa abstrak yang tenang, ringan, lembut, tapi menguasai. Inilah rasa yang selalu kau nanti, yang kau pikir ada di tubuhmu tahun lalu tapi ternyata salah. Inilah yang kau tunggu, takdirmu telah menunggu dan kini kau yang memutuskan.

Otot-otot bergerak bergerak tanpa menunggu perintah. Paha mendorong naik, pinggul mengangkat, tangan menyimbangkan, kaki bergerak. Aku sudah berada di depannya, meminta simbol yang diberikan kepadanya saat ia lahir, yang dibawanya hingga mati nanti. Nisa, dia bilang, atau panggil saja Enca. Haha, lucu sekali namanya. Nama yang selalu aku pikir indah. Nama yang selalu ingin aku sebut-sebut. Nisa Nisa Nisa. Melodi antara ‘i’ dan ‘sa’ yang sangat indah. Lidah menyentuh atap mulut sesaat lalu dilepas, dan menyentuh lagi agak lama sambil agak berdesis ‘ssssa’. 

Inilah malam kemanusiaan. Malam manusia menjadi manusia. Malam manusia menentukan takdirnya. 

Dan aku telah menentukan takdirku. Aku kini telah menjadi manusia.

16/07/15

Sunday, August 16, 2015

tujuh puluh



Angka tujuh selalu menjadi angka yang sakral. Angka tujuh menjadi angka sempurna penggenap, angka untuk pahlawan, selebriti, dan diperebutkan bintang bola. Banyak pula yang mencari-cari angka tujuh untuk mengabadikan cintanya. Nah, di angka tujuh ini, tujuh belas agustus Indonesia akan ulang tahun yang ketujuhpuluh. Jenuh juga, pasti pertanyaan yang sama diulang-ulang: setelah sekian puluh Indonesia merdeka, apa warga negaranya sudah bisa menikmati kemerdekaan? Bosan juga pasti isu itu lagi itu lagi yang diangkat media. Sekolah mau ambruk, jembatan putus, jalanan rusak, masyarakat miskin, listrik belum masuk ke daerah pedalaman. Apa lagi? Ah kalau mau disebutkan satu per satu novel-lah jadinya tulisan ini. Bukannya saya tidak peduli pada ketidakberuntungan yang dialami oleh saudara-saudara kita sebangsa setanah air lainnya, tapi, yuk coba kita lihat dari yang paling dekat, yaitu diri kita sendiri. Di ulang tahun yang ketujuhpuluh ini, sebagai warga negara baik berhati nurani luhur budi pekerti, mari kita introspeksi diri kita tujuh kali tujuh puluh tujuh kali.


Mumpung di media sosial sedang tren soal rombongan motor Harley Davidson yang, menurut panitia di harian Kompas, sebanyak 4.000 orang, dicegat oleh sekelompok pesepeda yang kesal karena mereka menerobos lampu merah. Sudah dapat ditebak jalanan dari tiga arah lainnya pasti macet berat karena rombongan yang segitu banyaknya. Sebagai warga negara biasa, mau bagaimana lagi? Di situ polisi semua yang jaga. Tapi, mas Elanto justru dengan berani mencegat dan menentang mereka. Apakah kita sudah berani seperti Mas Elanto? Saya sih enggak. Tapi paling tidak, apakah kita berani berprinsip seperti beliau? Punya nilai yang kita pegang teguh. Kalau menerobos lampu merah itu tidak benar, ya jangan ikut-ikutan hanya karena semua orang menorobos lampu merah. Kalau semua motor melawan arus, bukan berarti melawan arus itu dibenarkan dan kita boleh mengikutinya. Apakah kita berpegangteguh pada kebenaran?

Sebagai warga negara dan katanya cinta Indonesia, seperti apakah nasionalis itu? Dengan memajang bendera merah putih di depan rumah kah? Keliling kota bersama konvoy besar-besaran dengan menyewa polisi sekian rupiah sambil bawa-bawa bendera merah putih kah? Teriak-teriak “Pancasila Yes! Komunis No!” kah? Menurut KBBI, nasionalisme adalah: 1. paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: -- makin menjiwai bangsa Indonesia; 2. kesadaran keanggotaan dl suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan. Esensinya adalah cinta sehingga kita melakukan yang terbaik untuk negara supaya cita-cita bersama dapat diwujudkan. Yang namanya cinta tidak mungkin melakukan yang menyakiti. Yang namanya cinta pasti memberi yang baik. Untuk mewujudkan cita-cita bersama, berarti mengutamakan kepentingan bersama. Sesederhana itu. Apapun itu, entah itu melalui karya, mengabdi menjadi pegawai atau pejabat negara, menjadi tentara membela di garis depan, menjadi banker, atau bahkan menjadi pegawai kebersihan.

Apakah kita sudah melakukan sesuatu untuk kepentingan bersama supaya negara dan orang-orang di sekitar kita menjadi lebih baik? Atau kita hanya mengeluh mendumel bahkan merugikan orang lain? Apakah kita konvoy dengan ratusan motor lain membawa bendera merah putih sambil menyebarkan sampah sepanjang perjalanan sambil membuat jalanan yang kita lalui menjadi macet? Apakah kita teriak-teriak anti-komunis tetapi berdagang dengan mengambil untung sebesar-besarnya sampai menyulitkan orang lain? Apakah kita menjadi pegawai negara hanya untuk menerima tunjangan bulanan dan pension sementara sering bolos dan mencari-cari pelicin? Apakah kita kuliah tinggi-tinggi hanya untuk mendapatkan ijazah dan senang-senang hangout dengan teman melupakan kewajiban kita untuk turut berkontribusi membangun negeri? Apakah kita marah-marah jalanan macet tapi kita sendiri mutar di tempat yang membuat kendaraan mengantri ratusan meter? Apakah kita protes jatuhnya nilai rupiah sementara kita ganti-ganti gawai dan mobil dan apparel impor dan naik mobil kemana-mana padahal bisa menggunakan angkutan umum atau jalan kaki? Untuk rupiah kuat tentu saja kita harus mengencangkan ikat pinggang, tidak menjadi warga yang konsumtif tapi produktif. Beli barang-barang lokal, belanja di pasar dan warung, gunakan gawai sesuai fungsinya, kuliah untuk mengabdi, bekerja untuk melayani. 

Tapi, yang terpenting, apapun itu pekerjaan dan kewajiban kita, apakah kita sudah melakukannya dengan meraki? Segenap yang kita miliki untuk mengabdi dan memajukan negara ini mengorbankan keinginan dan hasrat personal masing-masing kita? Mau jadi tukang sapu pun, menyapulah seperti Beethoven menciptakan musiknya. Sudahkah kita demikian?

Saya sendiri sih belum. Saya masih sering malas-malasan. Enak-enakan dengan orang dari orang tua. Tapi paling tidak saya tidak ingin melakukan hal-hal yang merugikan orang dan mencoba sebisa mungkin membuat lingkungan saya lebih baik. Saya tidak nerobos lampu merah, tidak melawan arus, tidak U-turn di tempat yang tidak boleh, menyimpan sampah kalau belum ada tempat untuk membuang sampah, tidak merokok, sebisa mungkin jalan atau naik angkot, diet plastik, ikut organisasi untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Malas-masalan memang sifat buruk yang terburuk saya yang harus segera saya atasi supaya saya bisa menjadi lebih produktif untuk negara.

Thursday, August 13, 2015

indo orgasm



Ini sudah tiga hari sejak sebuah acara besar organisasi yang saya ikuti, Rotaract, mengadakan pertemuan dengan klub dari 15 negara lain selain Indonesia. Asia Pacific Regional Rotaract Conference sudah keduabelas kalinya diadakan. Tahun ini, negara saya dengan bangga menjadi tuan rumah yang mengambil lokasi di Yogyakarta, tepatnya Sheraton Mustika Jaya. Selama empat hari dari tanggal 8-11 Agustus kami bertemu, berkenalan, dan berbagi dengan lebih dari 400 orang yang berasal dari Taiwan, Filipina, Tiongkok, Jepang, Malaysia, Singapura, Mongolia, Macau, Thailand, Hongkong, Italia, Korea Selatan, India, Australia, dan bahkan negara kecil Guam di tengah Samudera Pasifik sana datang berkunjung ke Indonesia.



Walaupun agak sulit beradaptasi karena sifat dasar saya yang sering canggung-canggungan dan agak-agak pemalu sejak saya kecil dan masih belum juga hilang sampai sekarang, saya sangat bersyukur mengikuti konferensi ini. Awalnya enggan karena harganya yang mahal, tapi akhirnya dibela-bela juga, mumpung di negeri sendiri daripada di negeri orang lain pasti lebih mahal lagi harganya. Segala perasaan naik turun dari senang, malu, tidak sabar, gregetan, canggung, girang, ketawa, sedih, lucu, bangga, kangen, bosan, capek, kesal, sampai akhir acara yang berujung pada rasa sedih berpisah semua berakumulasi menjadi satu roller coaster dengan lingkaran ganda orgasme Indonesia. Sesuai dengan tanda pagar acara ini: #INDOgasm. 

Banyak kekurangan dari acara ini. Molor, administrasi semrawut, kamar hotel belum siap saat peserta datang, kata sambutan yang selalu lebih lama dari acara utamanya, ritme acara yang kurang sigap. Belum lagi seminar dan workshop-nya yang sangat sebentar dan kurang mengena. Tapi ya sudahlah, seperti adegan seks pun ada saat-saat yang kurang nyamannya. Dan seperti seks juga lebih baik fokus ke yang enaknya supaya tanjakan dari halilintar ini dapat sampai di titiknya yang tertinggi lalu jatuh ke jalur berputar nan orgasmik. 





Dunia terasa menjadi sangat kecil. Bertemu begitu banyak orang dari negara dengan bentuk-bentukan yang sangat beragam di satu tempat. Sekarang berbicara dengan orang Jepang sebentar bicara dengan orang Australia, nanti lagi berblepotan dengan orang Taiwan. Dengan gaya-gaya antar negara yang tidak sama satu dan yang lain, aksen-aksen lucu di kuping kita yang di kuping mereka aksen kita pun aneh, bertukar makanan dan kartu nama. Panas-panasan di pinggir sungai untuk menanam pohon setelah bosan terpanggang oleh ceramah para pejabat gila hormat. Takjub dengan perspektif baru yang saya punya saat ketigakalinya mengunjungi Borobudur, bangga menjelaskannya ke teman dari Taiwan, dan lagi terbakar oleh matahari pukul tiga saat itu, dan masih harus berjalan satu kilometer dari candi megah itu ke dalam bus. Sekali-kalinya ke Prambanan untuk makan malam yang seharusnya mewah dan menyaksikan elegannya sendratari Ramayana dengan latar belakang candinya Roro Jonggrang menggunakan pakaian glamor. Melepaskan lentera-lentera ke atas langit, terbang ke atas Prambanan dengan begitu melankolisnya. Malamnya kami bergoyang tak henti sampai mabuk oleh ritme DJ kita dari Malaysia, Rufus. Takjub dengan tarian teman-teman Jepang yang epic sekaligus absurd,membuat badan tidak bisa menolak hati ingin mengikutinya.  

 Dunia terasa menjadi sangat besar. Melihat begitu banyaknya orang dari negara-negara itu yang begitu hebat. Mereka profesional di usianya yang tidak jauh dari saya. Saya menjadi merasa kecil di depan mereka yang begitu ambisius mengejar mimpi-mimpinya. Mereka begitu fasihnya menjadi tutor workshop saat itu dengan prestasi-prestasinya yang luar biasa. Dan itu masih hanya sehelai rambut dari seluruh rambut lebat di seluruh dunia. Saya pun terbukti tidak terbiasa bergaul dengan orang-orang baru, terlebih orang-orang baru yang bukan orang Indonesia dan orang asing yang tidak fasih berbahasa Inggris. Selama empat hari itu pun saya dibuat bertanya-tanya: mampukah saya bersaing dengan orang-orang lain di bidang saya? Ataukah saya hanya bisa bersaing di Indonesia saja? Ataukah saya tidak mampu menjadi penduduk dunia? Pertanyaan yang akan saya jawab dengan perbuatan saya sejak saat itu ke depan. 

Rotaract-lah yang membuat saya terus terpacu untuk menjadi yang terbaik untuk diri saya sendiri karena masih banyak yang jauh jauh lebih hebat dari saya. Apalah saya dengan prestasi yang tidak ada apa-apanya. Karya adalah satu-satunya ekspresi diri untuk membuktikan diri sendiri.
Sungguh empat hari yang sangat berharga. Hanya dengan empat hari pikiran saya terkesima, sesuai dengan slogan utama konferensi ini: “Blow your mind!”. Well, I am blown away. Susah untuk beranjak dari euforia APRRC kemarin. Biarlah ini yang menjadi cambuk saya untuk terus berlari menerbangkan gelembung-gelembung mimpi saya. 

Terima kasih APRRC Yogyakarta. Sampai jumpa di APRRC 2016 di Kyoto tahun depan!