like the flowing river

be like the flowing river.
silent in the night.
be not afraid of the dark.
if there are stars in the sky,
reflect them back.
if there are clouds in the sky,
remember, clouds, like the river, are water.
so, gladly reflect them too,
in your own tranquil depths.

~manuel bandeira

Sunday, January 17, 2016

kencan sup ikan



Hari ini saya dan Nisa akhirnya kencan. Setelah sekian lama tugas akherat memberikan jarak di antara kami sampai akhirnya selesai juga Selasa kemarin. Kencan yang spontan hanya karena saya tidak jadi pulang ke Tangerang dan ia ingin Sumber Hidangan di Jalan Braga. Sudah lama juga kami ingin ke sana namun tidak sempat. Pernah waktu itu tapi tutup. Hari ini pun ternyata tutup juga sehingga takdir menghentikan kami makan rotinya yang cukup terkenal itu. Perut pun ujungnya membawa kami pada restoran cepat saji berambut merah di samping Braga Walk. Menikmati burger dengan keju meleleh di dalamnya bersama kentang hangat nan crispy. Berlama-lama kami di sana berketawa-ketiwi sekitar satu jam.

Setelah itu kami keluar mencari sesuatu. Awalnya sih mau ke Babah Kuya, toko rempah yang sudah berdagang sejak 1810, katanya, karena kami sangat tertarik pada rempah-rempah. Tapi, apa daya, dalam perjalanan menuju Jalan Pasar Selatan, kami nyangkut di penjual buku-buku di Jalan Cikapundung. Saya mencari-cari buku tentang bambu. Enam penjual saya tanyai satu-satu tapi tidak dapat sama sekali. Malahan Nisa yang dari dulu suka majalah Bobo, menemukan kumpulan dongeng majalah Bobo yang selama ini dia cari-cari. Pas nunggu.... eh!! Apa tuh yang nyelip di situ warna merah ada kayumanisnya? Ternyata.. majalah Tempo tahun 2014 edisi khusus yang mengupas Antropologi Kuliner Indonesia! Wah.. serendipity lagi! Kami berdua akhirnya sama-sama girang berhasil menemukan harta karun kami.
 
Beres buku niatnya melanjutkan jalan kaki ke Babah Kuya. Tapi langit tidak setuju kami ke sana dan memaksa kami kembali ke Braga untuk berteduh. Dengan buku di tangan, tentu kami ingin cepat-cepat membacanya. Apalagi sebentar lagi akan hujan deras. Apa yang paling enak kalau sudah begini? Baca buku, minum teh panas, dan makan kue. Tempat yang paling pas? Starbucks Braga! Starbucks Braga sudah lama jadi tempat favorit kami. Dengan suasana art deconya, ruangan yang tidak terlalu luas, meja tinggi yang nyaman, jendela yang banyak, dan hujan di luar, pasti ideal. Kami pun berjalan cepat dengan segera menuju sana. Pas sekali ketika kami sampai air langsung tumpah ruah dari langit. Kami memesan satu Chai Tea Grande, kesukaan Nisa, satu croissant, kesukaan saya, dan satu lemonnite, atau kue apalah itu yang berwarna pink dan bertabur parutan kelapa, berasa manis strawberry dengan asam lemon ditambah gurih kelapa parut yang ternyata tidak terlalu enak. Mungkin sekitar 3 jam kami di sana. Baca buku, main hape, ngobrol segala macam topik, foto-foto, mimpi, ngehayal, ngegambar.
 
Setelah hujan berhenti dan kami mulai capek di Starbucks, kami memutuskan untuk melanjutkan ke Riau Junction karena Nisa harus beli sabun dan shampoo nya yang sudah habis. Kami keluar ketika masih sedikit gerimis. Jalan ke perempatan Lembong dan Braga untuk naik angkot Sadang Serang ke Riau. Saat sudah di dalam angkot tapi sang supir masih ngetem sambil mendengarkan lagu metal, muncul ide untuk jalan saja menyusuri Jalan Merdeka. Karena dengan begitu kami akan melewati Balai Kota yang baru saja direnovasi. “Ga jadi A!” tanpa pikir panjang kami turun angkot jalan menyusuri Jalan Merdeka melewati Hotel Panghegar, rel kereta, Katedral Santo Petrus, Taman Vanda, lalu masuk ke taman Balai Kota yang baru dengah rintik hujan tipis dan awan tebal yang menutupi cahaya matahari. Udara sejuk menyentuh wajah kami merekahkan bibir kami yang tidak bisa berhenti tersenyum. Cantik memeang taman yang baru itu. Sayang tidak kepikiran untuk dijepret satu-satu pojok-pojoknya. Salut, Kang Emil! Kami lanjut berjalan menyusuri BIP, belok ke kanan ke Jalan Riau di peremapatan Dago-Riau.

Yah. Setelah itu tidak banyak yang bisa diceritakan. Kami belanja di Riau Junction, makan nasi goreng babi di sebrang UNKL, jalan ke Jalan Purnawarman, lalu langsung pulang. Tapi ini benar-benar salah satu kencan yang paling berbekas. Bayangkan kalau menyeruput kaldu sup ikan. Ringan, tetapi kaldu ikan begitu terasa di mulut dengan gurih dan sedikit ‘amis’ ikan juga manisnya, hangat di tenggorokan, nyaman di perut. Nah, sekarang bayangkan rasa itu ada di dalam kencan. Lain kali akan dicoba lagi! 

Sunday, January 3, 2016

akhir akhirnya








Sudah tiga hari dan ketika saya selesai mengetik ini akan genap menjadi empat hari setelah bumi kembali di titik yang sama dalam mengelilingi matahari untuk kesekian kalinya. Kini sudah ke dua-ribu-enam-belas kalinya dihitung sejak Mesias lahir ke bumi. Dan tulisan
 ini akan menjadi tulisan pertama yang direkam blog ini dalam ronde yang ke-2016 ini.

Sampai selesainya tahun lalu, rasanya seperti rasa juga sudah mati. Dua ribu lima belas memang hebat. Dramatis bisa dibilang. Tapi dipenghujung serasa menyetir jalan yang tidak berkesudahan sampai-sampai lupa kalau sudah sekian kilometer terlewati. Aneh juga bukankah seharusnya jalan berliku, penuh lubang, macet, banyak hiburan, penuh pemandangan, akan sangat berkesan? Mungkin ini dampak dari studio kelima itu yang perlu waktu dua tahun untuk membereskannya. 

Tahun lalu penuh serendipity. Penuh ketidaksengajaan yang begitu sengajanya terjadi tanpa maksud. Studio lima akhirnya tertembus juga dengan tiga kali percobaan. Sampai-sampai tidak terasa akhirnya tapi tetap memuaskan. Nisa juga akhirnya selesai tugas paling akhiratnya walaupun masih ada satu mata kuliah yang tertinggal sehingga toganya tertunda setahun lagi. Berjuang bolak-balik Bandung-Singaparna yang menghabiskan waktu setidaknya 5 jam sekali jalan berhari-hari berturut-turut. Badan penuh dengan angin walau sudah 3 hari sejak terakhir ke Singaparna. Tetapi hasilnya produk saya dan Mega mendarat juga di Glasgow, Skotlandia; walaupun tidak menang. Dan, hey, yang paling menakjubkan adalah dari situ Dapur, kelompok yang sudah lama ingin kami jalankan, dapat terbentuk secara resmi juga bersama dengan Maul. 

Bertemu dengan ratusan keluarga Rotaract se-Asia Pasifik bersama dengan Nisa dan teman-teman Rotaract lain. Menambah saudara-saudara baru di sana sini. Kini tidak perlu lagi khawatir kalau jalan-jalan ke negeri orang. Dan saya dengan Nisa bak pasangan yang kemana-mana ngegelendot berdua (karena kapan lagi pacaran di hotel dengan saya memakai jas dan dia gaun cantik? Heheh).
Dan kini saya bertarung dengan rasa malas dalam delapan hari menuju sidang saya yang terakhir. Jujur saja sejak dua bulan yang lalu saya sudah tidak lagi fokus. Imajinasi di kepala sudah menguasai untuk gerak-gerik sesudah sidang pamungkas itu. Jalan ke Bali, Flores, Sumba, memulai Dapur, mencari desa, membuka warung Betutu, cari kontrakan, kawin (haha yang ini mah masih jauh). Rasanya jalan ini terlalu landai. Ketakutan yang terbesar adalah keterjalan saat harus melewati titik sidang. Semoga saja tidak mendadak jadi neraka. 

Tapi Natal ini pun tidak bergairah. Memang pada dasarnya tahun ini tahun tobat sekaligus tahun kemaksiatan. Pertobatan saya tampaknya hanya bertahan sampai bulan Februari atau Maret. Setelah itu hidup penuh maksiat dan dosa. Pun saya tidak mau berlumpur-lumpur bau bangkai datang ke gereja. Sehingga makin jadilah saya tidak ke gereja, walaupun mereka bilang ibadah itu adalah proses pembersihan diri. Tapi tetap saja, siapa yang punya muka datang kembali ke ayah yang telah kau tinju lalu kau minta maaf lalu setelah dimaafkan kau tinju lagi berkali-kali lipat? Sudah pasti ayahmu akan mengampuni, tetapi malukah? Bertobatpun belum siap takut nafsu membawa tinju ini ke ayahmu. Pada akhirnya rumah ayah tidak didatangi sama sekali berbulan-bulan bahkan pada rangkaian peringatan hari lahirnya. 

Bagaimanapun juga pelajaran berharga tetap terpetik. Tidak datang ke seremonial malam natal akhirnya melepaskan saya dari bentuk fisik semu dari perayaan natal yang hanya menjadi steroid nafsu konsumtif masyarakat saja dengan segala hingar bingar keglamorannya. Dengan ditinggal seluruh keluarga liburan juga akhirnya menyadarkan saya kalau saya kangen keluarga yang jarang sekali saya temui itu. Juga dengan tahun baru yang hanya dirayakan dengan berdoa bersama papi mami, makan es krim, dan minum bir. Nikmat yang lebih nikmat daripada membakar uangmu untuk meledak di udara dalam sekian detik, percayalah. Akhirnya saya belajar esensinya, sari dari inti yang di dalam, bukan kulit daging yang di luar.

Akhirnya ini semua pada akhirnya. Tahun berganti dan masih perlu memanaskan semangat dan motor gerak ini supaya tidak kadung dingin setelah limat hari didiamkan. Tidak sabar menjerami sungai di bawah, memacul gua batu menembus gunung, mengangkat diri ke puncak gunung di atas sana.


Maafkan tulisan yang semakin saja berantakan ini. Sepertinya tugas akhir ini memang pada akhirnya harus diakhiri. Semoga cepat berakhir. Mohon doanya.